Si (Ali) Dul Anak Jakarta
Mungkin jika saya bertanya pada orang apa yang pertama kali mereka ingat ketika mendengar nama “Si Dul”, mereka sepakat akan menyebut cerita anak Betawi yang rajin sembahyang dan mengaji yang dulu pernah ditayangkan di tv. Begitupun saya. Siapa yang tidak tahu. Original soundtrack yang easy listening, para pemeran yang terkenal, cerita yang menarik karena membawa kebudayaan tertentu, dan segala hal yang membuat kita kenal dengan tokoh Si Dul. Beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan Si Dul, tapi bukan anak sekolahan melainkan anak Jakarta.
Saya menemukan
buku ini ditumpukan buku-buku lama di sebuah perpustakaan sekolah. Menurut
informasi buku ini akan dihibahkan -saya tidak paham
betul bagaimana regulasi buku di perpustakaan sekolah, namun yang saya dengar
buku ini akan dihibahkan karena sudah terlalu lama tersimpan di perpustakaan-. Jadi tidak akan disimpan
seperti teman-teman buku lain. Tiada berpikir dua kali, saya bungkus buku ini bersama
buku-buku lain yang juga akan dihibahkan. Thanks God saya pernah berguru
menyelamatkan buku dari perpustakaan saat masih kuliah.
Judulnya Si Dul
Anak Jakarta. Buku yang sangat tipis ini merupakan terbitan Balai Pustaka. Saya
tidak bisa melacak tahun asli buku ini terbit. Namun dari informasi buku yang
saya dapat, cetakan ketiga
buku ini terbit tahun 1941. Sedangkan buku yang saya pegang adalah cetakan ke-22 ditahun 2001. Penulisnya bernama Aman Datuk
Madjoindo. Menurut Tirto. id, Aman menerbitkan cerita Si Doel Anak Betawi pada
tahun 1931. Lalu si Doel anak Betawi berubah nama menjadi Si Dul Anak Jakarta.
Setelah sukses dengan novel dan di adaptasi layar perak garapan Sjumandjaya
pada 1972, kisah Dul berlanjut ke layar kaca melalui Si Doel Anak Sekolahan
yang tayang sepanjang 1990-an. Hingga kini, kisah kesederhanaan Dul tetap dimati terlebih ketika film layar
lebar teranyar Si Doel The Movie yang sudah mencapai jilid ke-2.
Berkisah
mengenai si Dul, dibelakang baru diketahui jika namanya Abdul Hamid.
Sebagaimana anak-anak pada umumnya yang suka sekali bermain. Sehari-hari Dul
menghabiskan waktu dengan bermain bersama kawan-kawannya -Mamad, Sapii, Patmah,
Asnah, Mamad, Amje, dll-. Selain bermain Dul juga rajin mengaji dirumah
kakeknya, Uak Salim. Kehidupan main-main Dul mesti berubah lantaran sang ayah
meninggal ketika menarik otobus di daerah Bogor.
Sebagai orang
yang punya darah Betawi saya merasa senang membaca cerita ini. Banyak kosakata
Betawi yang tidak pernah saya dengar dituturkan oleh
keluarga babeh saya. Cerita yang rasanya relate karena nama-nama daerah asli
seperti
Jatinegara, Keboh Sirih, dan Bidara
Cina yang mana daerahnya memang masih ada sampai sekarang.
Membaca si Dul
saya merasa membaca kisah bapak saya. Namanya
Muhammad
Ali. Seorang anak Betawi yang kecil tinggal di daerah Cawang, sering main
kemana-mana dan memiliki rumah di Depok setelah menikah. Tidak ada yang menarik
sebenarnya dari ayah saya. Namun saya
merasa jika cerminan anak Betawi pada masanya, ya si Dul ini.
Cerminan apa
yang saya lihat dari Dul dan pak Ali?
Mereka
sama-sama suka main. Dari awal
cerita, pembaca akan disuguhkan situasi bermain Dul dengan teman-temannya.
Permainannya pun beragam. Masak-masakan, bermain kelereng dan bermain peran.
Bapak saya pun begitu. Belakangan saya baru mengetahui jika bapak saya sering
main ke Cikini sewaktu muda. Bapak menonton teater di sana. Sampai setelah menikah pun,
kegiatan berkumpul dan bermain bersama kawan menjadi hal yang masih sering
dilakukan bapak. Yang kedua, mereka rajin mengaji.
Diceritakan jika tiap hari Doel belajar mengaji di rumah kakeknya -ayah dari
emaknya Dul-. Jika teman-temannya dikenakan tarif pembelajaran mengaji,
sedangkan Dul tidak. Karena masih ada hubungan darah dan karena keluarga Dul
tidak punya uang untuk membayar biaya mengaji. Bapak saya pun begitu. Beruntung
sekali saya memiliki bapak yang rajin mengaji. Karena saya jadi harus pula bisa
mengaji. Ketika sedang mengaji di rumah, bapak suka membenarkan bacaan saya.
Itu baru mengaji Al-Quran, belum dengan mengaji guru-guru dan habib-habib. Yang
terakhir adalah keduanya menjadi tulang punggung setelah bapak mereka meninggal.
Dul terpaksa juga harus membantu ekonomi keluarga dengan keliling kampung
menjual nasi ulam buatan emaknya. Dul tidak bisa hanya main sepanjang hari.
Ada tanggung jawab yang tiba-tiba harus diemban sepeninggal sang babeh. Bapak
saya pun begitu. Engkong -panggilan untuk kakek dalam keluarga Betawi-
meninggal waktu bapak masih kecil. Mulai dari saat itu bapak bertanggungjawab
atas keluarga. Bapak berusaha sekali bisa menghasilkan uang, atau minimal
tidak minta uang pada ibunya agar tidak merepotkan. Hal itu terjadi sampai
bapak meninggal. Entah aturan dari mana, bapak saya pada kenyataannya harus juga bertanggungjawab
atas kakak dan keponakan-keponakannya.
Buku ini sangat boleh untuk dinikmati. Banyak pelajaran yang bisa diambil pembaca. Selain mengenal budaya Betawi, pelajaran hidup juga didapat dari buku ini. Untuk saya pribadi, saya merasa jadi makin dekat dengan bapak saya meskipun bapak saya sudah tidak ada lagi di dunia.
Bogor, 10 Oktober 2023
16.20 WIB.
Butuh waktu yang lama ternyata menyelesaikan tulisan ini. Tulisan
ini dibuat untuk mengenang bapak saya, Alm. Muhammad Ali. Terima kasih ya pak
atas semua pelajaran hidup yang bapak ajarkan selama ini. Mungkin saya engga
bisa 100% menjaga budaya Betawi. Tapi darah Betawi akan terus mengalir di tubuh
saya.

Comments
Post a Comment