Kebosanan yang Berujung Tragedi
Malam ini, Minggu 6 Desember 2015, hujan turun dengan lebatnya. Hujan yang mengguyur Rawamangun dan sekitarnya semenjak pukul 5 sore hingga 8 malam ini membuat aku tak bisa kemana-mana. Gemuruh semesta beserta kilat nya menyambar tak terarah. Jalan-jalan tergenang air. Bahkan got-got pun meluap hampir memasuki rumah warga.
Dan disini aku mulai diserang
kebosanan hebat. Saat itu juga segera ku periksa lemari buku, sekiranya buku
apa yg belum pernah kujamah di rak ini.?
Aku menemukan sebuah buku. Tidak
begitu tebal. "Hmmm, pasti aku bisa menyelesaikannya dalam waktu
semalem", ucapku dalam hati. Aku buka lembar pertama buku tersebut.
“Yogyakarta 3 Oktober 2015. Anisa Suci Ra.” Ternyata buku ini sudah kubeli 2
bulan yang lalu. “Mengapa bisa aku lupa dengan buku ini” pikirku.
sumber : www.google.com
Buku ini berisi kisah yang
dituturkan langsung pada tahun 1995 oleh 10 perempuan mengenai apa yang menimpa
mereka ditahun pasca 1965. Kesan pertama baca buku ini, begitu seru. Layaknya
membaca sebuah buku harian. Begitu jujur, penuh emosi. Bedanya dalam buku ini
semua perasaan yang diuangkapkan sama, soal kepahitan dan kesewenangan
penguasa.
Buku ini ditulis berdasarkan
pengakuan para anggota Gerwani, tertuduh Gerwani dan perempuan yang memiliki
kedekatan dengan anggota PKI. Pasca ditemukannya mayat 6 jendral dan 1 letnan
Angkatan Darat, dilakukan pembersihan habis-habisan terhadap semua orang yang
dianggap memiliki kedekatan dengan Partai Komunis Indonesia. PKI dianggap
sebagai dalang terbunuhnya para jendral Angkatan Darat tersebut. Tidak, buku
ini tidak menjelaskan siapa yang sebenarnya harus bertanggungjawab terhadap apa
yang terjadi ketika itu. Buku ini memuat kisah 10 perempuan yang mendapat
siksaan hebat karena mereka anggota Gerwani, karena suami mereka adalah PKI,
dank arena mereka adalah aktivis dikampus mereka. Saya rasa pemberian judul
dengan menggunakan kata “korban” begitu tepat. Bagaimana tidak mereka dimasukan
kedalam penjara mendapat penyiksaan mental dan fisik, mereka dipaksa mengakui
apa yang tak pernah mereka lakukan –Gerwani dan anggota PKI dituduh membunuh
para jendral dengan cara mencongkel mata, menyayat kemaluan dan memotong penis
para jendral-, mereka dijauhkan dari keluarga dan masyarakat, mereka dibenci
semua orang karena dianggap pelacur dan perempuan sundal, lalu mereka
dilepaskan begitu saja. Dan kini, sejarah mereka sengaja ditutupi karena
anggapan mereka memang pantas mendapat perlakuan seperti itu. Mereka
diperlakukan secara biadap tanpa proses pengadilan apapun yang menyatakan
mereka benar atau salah. Untuk ku, sydah tentu, mereka korban.
Dari semua penuturan perempuan
tersebut aku menarik sebuah kesimpulan, ada persamaan perlakuan terhadap
korban. Korban diambil paksa dari lokasi mereka berada. Entah dirumah,
dikampus, disekolah, dijalan, dimana-mana. Lalu mereka dimasukkan kedalam
sebuah truk dan dibawa ke sebuah kamp pengasingan yang khusus berisi para
perempuan, yang terakhir ku tahu kamp pengasingan tersebut berada didaerah
Plantungan, makanya disebut Kamp Pengasingan Plantungan. Tak jarang selama
perjalanan perempuan-perempuan ini mendapat siksasaan terlebih dahulu.
Dipukuli, ditelanjangi, ditendang. Tidak sampai disitu, perlakuan yang mereka
dapatkan selama dipenjara lebih buruk lagi. Mereka diperkosa bergilir oleh para
penjaga kamp. Dalam semalam bahkan mereka dipaksa untuk melayani lebih dari 5
lelaki. Pingsan, pendarahan dan rasa sakit yang mendalam sudah begitu lumrah
mereka rasakan. Selain itu mereka pun diintrogasi dengan cara tidak manusiawi,
mereka ditelanjangi terlebih dahulu. Jika para penjaga tahanan tidak mendapat
jawaban yang tidak mereka harapkan, mereka akan menyetrum para perempuan
tersebut hingga pingsan. Lalu mereka perkosa lagi beramai-ramai. Tak jarang,
saking banyak siksaan yang para perempuan tersebut dapatkan, mereka keluar dari
kamp dengan keadaan cacat atau lumpuh.
Ketika penulis menemukan ke-10
korban tersebut, mereka hidup dengan keadaan beraneka ragam. Ada yang harus
hidup jauh dari daerah asal karena diusir, ada yang harus mengubah identitas
total agar mereka tak ketahuan sebagai ex-tapol (mantan tahanan politik), ada
yang harus hidup menjadi lesbian, dan sampai mengubah agama mereka agar bisa
berbaur dalam masyarakat menjadi manusia normal. Tapi ada satu kesamaan dari
yang mereka rasakan kini, mereka hidup dengan lebih tenang meski harus hidup
ditempat baru dan menjadi menusia baru.
Aku tak habis pikir, bagaimana
jika aku yang bertemu langsung dengan para korban perempuan tersebut. Apa yang
akan aku katakana sebagai sesama perempuan? Apa yang bisa aku lakuakan sebagai
sesama manusia?
Jam sudah menunjukan pukul 00.23
WIB. Sudah saatnya untuk menutup buku dan beristirahat. Hujan diluar pun sudah
reda. Suara gemuruh dilangit juga tak terdengar lagi. Ku simpan buku ku
dilemari, dan aku bergegas ke tempat tidur dengan rasa sakit didada. Ya Tuhan,
bahagiakah para pelaku yang sudah membuat para perempuan tersebut begitu
menderita?
Rawamangun,
6 Desember 2015
Pukul
01.02 WIB
Teruntuk
ibu Rusminah, ibu Partini, ibu Yanti, ibu Maryati, ibu Sukarti, ibu Sudarsi,
ibu Sus, ibu Suparti, ibu Badriyah, dan ibu Darmi. Dimanapun kalian berada,
semoga Tuhan selalu melindungi kalian dan melimpahkan kebahagiaan untuk kalian.
Sejarah tidak betul-betul menyalahkan kalian. Meski kalian tidak bisa
menjelaskan pada semua orang apa yang sebenarnya terjadi terhadap para jendral,
lewat tulisan ini aku yakin sejarah telah membersihkan nama kalian.

Comments
Post a Comment