Kebosanan yang Berujung Tragedi

Malam ini, Minggu 6 Desember 2015, hujan turun dengan lebatnya. Hujan yang mengguyur Rawamangun dan sekitarnya semenjak pukul 5 sore hingga 8 malam ini membuat aku tak bisa kemana-mana. Gemuruh semesta beserta kilat nya menyambar tak terarah. Jalan-jalan tergenang air. Bahkan got-got pun meluap hampir memasuki rumah warga.

Dan disini aku mulai diserang kebosanan hebat. Saat itu juga segera ku periksa lemari buku, sekiranya buku apa yg belum pernah kujamah di rak ini.?

Aku menemukan sebuah buku. Tidak begitu tebal. "Hmmm, pasti aku bisa menyelesaikannya dalam waktu semalem", ucapku dalam hati. Aku buka lembar pertama buku tersebut. “Yogyakarta 3 Oktober 2015. Anisa Suci Ra.” Ternyata buku ini sudah kubeli 2 bulan yang lalu. “Mengapa bisa aku lupa dengan buku ini” pikirku.

Buku tersebut berjudul Suara Perempuan Korban Tragedi ’65. Ditulis oleh Ita F. Nadia tahun 2007. Terdiri dari 188 halaman, diterbitkan oleh Penerbit GalangPress di Yogyakarta.

sumber : www.google.com


Buku ini berisi kisah yang dituturkan langsung pada tahun 1995 oleh 10 perempuan mengenai apa yang menimpa mereka ditahun pasca 1965. Kesan pertama baca buku ini, begitu seru. Layaknya membaca sebuah buku harian. Begitu jujur, penuh emosi. Bedanya dalam buku ini semua perasaan yang diuangkapkan sama, soal kepahitan dan kesewenangan penguasa.

Buku ini ditulis berdasarkan pengakuan para anggota Gerwani, tertuduh Gerwani dan perempuan yang memiliki kedekatan dengan anggota PKI. Pasca ditemukannya mayat 6 jendral dan 1 letnan Angkatan Darat, dilakukan pembersihan habis-habisan terhadap semua orang yang dianggap memiliki kedekatan dengan Partai Komunis Indonesia. PKI dianggap sebagai dalang terbunuhnya para jendral Angkatan Darat tersebut. Tidak, buku ini tidak menjelaskan siapa yang sebenarnya harus bertanggungjawab terhadap apa yang terjadi ketika itu. Buku ini memuat kisah 10 perempuan yang mendapat siksaan hebat karena mereka anggota Gerwani, karena suami mereka adalah PKI, dank arena mereka adalah aktivis dikampus mereka. Saya rasa pemberian judul dengan menggunakan kata “korban” begitu tepat. Bagaimana tidak mereka dimasukan kedalam penjara mendapat penyiksaan mental dan fisik, mereka dipaksa mengakui apa yang tak pernah mereka lakukan –Gerwani dan anggota PKI dituduh membunuh para jendral dengan cara mencongkel mata, menyayat kemaluan dan memotong penis para jendral-, mereka dijauhkan dari keluarga dan masyarakat, mereka dibenci semua orang karena dianggap pelacur dan perempuan sundal, lalu mereka dilepaskan begitu saja. Dan kini, sejarah mereka sengaja ditutupi karena anggapan mereka memang pantas mendapat perlakuan seperti itu. Mereka diperlakukan secara biadap tanpa proses pengadilan apapun yang menyatakan mereka benar atau salah. Untuk ku, sydah tentu, mereka korban.

Dari semua penuturan perempuan tersebut aku menarik sebuah kesimpulan, ada persamaan perlakuan terhadap korban. Korban diambil paksa dari lokasi mereka berada. Entah dirumah, dikampus, disekolah, dijalan, dimana-mana. Lalu mereka dimasukkan kedalam sebuah truk dan dibawa ke sebuah kamp pengasingan yang khusus berisi para perempuan, yang terakhir ku tahu kamp pengasingan tersebut berada didaerah Plantungan, makanya disebut Kamp Pengasingan Plantungan. Tak jarang selama perjalanan perempuan-perempuan ini mendapat siksasaan terlebih dahulu. Dipukuli, ditelanjangi, ditendang. Tidak sampai disitu, perlakuan yang mereka dapatkan selama dipenjara lebih buruk lagi. Mereka diperkosa bergilir oleh para penjaga kamp. Dalam semalam bahkan mereka dipaksa untuk melayani lebih dari 5 lelaki. Pingsan, pendarahan dan rasa sakit yang mendalam sudah begitu lumrah mereka rasakan. Selain itu mereka pun diintrogasi dengan cara tidak manusiawi, mereka ditelanjangi terlebih dahulu. Jika para penjaga tahanan tidak mendapat jawaban yang tidak mereka harapkan, mereka akan menyetrum para perempuan tersebut hingga pingsan. Lalu mereka perkosa lagi beramai-ramai. Tak jarang, saking banyak siksaan yang para perempuan tersebut dapatkan, mereka keluar dari kamp dengan keadaan cacat atau lumpuh.

Ketika penulis menemukan ke-10 korban tersebut, mereka hidup dengan keadaan beraneka ragam. Ada yang harus hidup jauh dari daerah asal karena diusir, ada yang harus mengubah identitas total agar mereka tak ketahuan sebagai ex-tapol (mantan tahanan politik), ada yang harus hidup menjadi lesbian, dan sampai mengubah agama mereka agar bisa berbaur dalam masyarakat menjadi manusia normal. Tapi ada satu kesamaan dari yang mereka rasakan kini, mereka hidup dengan lebih tenang meski harus hidup ditempat baru dan menjadi menusia baru.

Aku tak habis pikir, bagaimana jika aku yang bertemu langsung dengan para korban perempuan tersebut. Apa yang akan aku katakana sebagai sesama perempuan? Apa yang bisa aku lakuakan sebagai sesama manusia?

Jam sudah menunjukan pukul 00.23 WIB. Sudah saatnya untuk menutup buku dan beristirahat. Hujan diluar pun sudah reda. Suara gemuruh dilangit juga tak terdengar lagi. Ku simpan buku ku dilemari, dan aku bergegas ke tempat tidur dengan rasa sakit didada. Ya Tuhan, bahagiakah para pelaku yang sudah membuat para perempuan tersebut begitu menderita?

Rawamangun, 6 Desember 2015

Pukul 01.02 WIB

Teruntuk ibu Rusminah, ibu Partini, ibu Yanti, ibu Maryati, ibu Sukarti, ibu Sudarsi, ibu Sus, ibu Suparti, ibu Badriyah, dan ibu Darmi. Dimanapun kalian berada, semoga Tuhan selalu melindungi kalian dan melimpahkan kebahagiaan untuk kalian. Sejarah tidak betul-betul menyalahkan kalian. Meski kalian tidak bisa menjelaskan pada semua orang apa yang sebenarnya terjadi terhadap para jendral, lewat tulisan ini aku yakin sejarah telah membersihkan nama kalian.


Comments

Popular posts from this blog

Matinya Kepakaran (The Death of Expertise); Sebuah Refleksi Awal Tahun

Televisi oh, televisi ...