Matinya Kepakaran (The Death of Expertise); Sebuah Refleksi Awal Tahun

    Tahun baru sudah 19 hari menjelang. Seperti yang sudah pernah saya katakan dimanapun jika saya sudah selesai membuat resolusi-resolusi saat ini. Saya tidak lagi membuat resolusi diawal tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. Pencapaian menurut saya adalah segala hal baru yang tidak pernah saya rasakan namun akhirnya saya memiliki kesempatan untuk merasakannya. Menyelesaikan buku ini sepertinya akan menjadi pencapaian saya di awal tahun ini.



Matinya Kepakaran adalah buku yang paling lama saya selesaikan. Kurang lebih setahun. Saya termasuk orang yang pantang membaca buku selang-seling. Saya harus menyelesaikan satu buku sebelum beralih ke buku lain. Dan membaca buku ini memberikan saya pengalaman membaca dengan gelisah dan selalu melihat ke halaman buku. Sebenarnya buku ini bangus, banyak contoh kasus yang diberikan. Tapi entah mengapa saya hanya sebentar terlarut dalam bacaan sehingga saya selalu terburu-buru untuk menyelesaikan alih-alih menikmatinya.

Buku ini ditulis oleh Tom Nichols, seorang profesor di U.S. Naval War Colleged an Harvard Extension School.[1] Matinya Kepakaran atau The Death of Expertise bukanlah satu-satunya buku yang ditulis Tom. Buku ini terdiri dari 293 halaman. Jumlah halaman yang sedikit sebenarnya. Tapi menjadi sebuah buku yang padat karena berisi contoh kasus yang terjadi di Amerika. Ya, mungkin ini salah satu yang membuat saya begitu lama menyelesaikan buku ini; kasus yang diceritakan bukan di Indonesia. Diterbitkan pertama kali pada Desember 2018 -dan kini sudah cetakan kelima- oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia.

Selesai membaca buku ini -juga selesai mendiskusikan beberapa isi buku ini dengan suami saya-, setidaknya saya merasa mendapatkan tiga hal penting yang berhubungan dengan beberapa kejadian di hidup yang saya alami:

  1. Penyebab mengapa buku ini ditulis oleh Tom Nichols adalah makin banyaknya masyarakat Amerika yang merasa tahu segala hal setelah satu jam saja membaca blog yang ditulis entah siapa itu; internet. Penyebab awal dari semua situasi ini adalah karena perkembangan internet dan sosial media. Tom bilang jika kita -sering kali dalam keadaan tidak sadar- dipaksa mengkonsumsi sampah. Informasi yang beredar di internet dengan mudah kita akses, lalu kita percayai begitu saja tanpa kita tahu siapa yang menulis artikernya, apa latar belakangnya, apakah menuliskannya dalam keadaan sadar atau tidak. Kita tidak peduli. Kita konsumsi apapun yang disediakan internet. Begitu saja. Ini ternyata berkaitan juga dengan faktor media. Sesuatu  yang bombastis adalah berita yang baik sehingga para jurnalis (kadang) mencari narasumber-narasumber yang meski bukan seorang pakar tetap diangkat oleh media. Tanpa sadar ternyata saya pernah juga melakukan hal tersebut. ketika kepala saya sakit misal, alih-alih ke klinik atau rumah sakit, saya malah mengetik di mesin pencarian gawai saya, “penyebab sakit kepala”. Lalu keluarlah artikel -artikel dari situs web entah apa dengan prediksi-prediksi yang membuat saya makin pusing. Ya saya salah. Atau mungkin kita semuapun salah.
  2. Jangan pernah meminta pakar untuk membuat prediksi. Mengapa? Ketika prediksi pakar salah, ini akan berdampak pada kepercayaan publik terhadap pakar. Padahal memang bukan pekerjaan pakar membuat prediksi. Pakar akan membuat sebuah pernyataan setelah selesai dilakukannya penelitian. Namun media suka terburu-buru untuk meminta pendapat pakar mengenai suatu hal. Jadilah prediksi prematur yang kita dengar. Contohnya seperti ketika pandemi Covid-19 menyerang dunia, dan segala kegiatan menjadi terganggu. Saya terpaksa harus ketergantungan terhadap medsos karena memang tidak bisa bersosialisasi kemanapun. Dalam sebuah cuplikan di medsos seorang pakar diminta untuk membuat prediksi sampai kapan kita akan mengalami situasi menggunakan masker, menjaga jarak dan tidak bisa berkumpul. Pakar tersebut menyatakan jika keadaan ini akan berlangsung lama jika kita tidak mawas diri dan menjaga protokol kesehatan. Tidak lama setelah pernyataanya, segala aturan jadi lebih longgar karena vaksin khusus Covid-19 ditemukan dan pemerintah menyatakan jika dengan menjaga protokol kesehatan pribadi kita bisa beraktivitas kemana-mana. Pakar itupun disalahkan karena prediksinya salah. Jadi siapa yang salah?
  3. Kita mesti paham jika dalam suatu pemerintahan pakar memang dilibatkan untuk membantu membuat sebuah kebijakan, namun yang memiliki hak untuk menerima atau tidak pendapat pakar ya pembuat kebijakan tersebut. Tapi anehnya jika kebijakan yang dibuat merugikan warga, pakarlah akan disalahkan. Makin menjadilah ketidakpercayaan publik terhadap pakar. 

Ternyata matinya kepercayaan masyarakat terhadap pakar sangat berpengaruh terhadap jalannya suatu negara. Kita sering lupa jika meski memiliki azaz demokrasi, tidak berarti semua orang berhak mengatakan apa yang ada dalam pikiran mereka. Ini malah akan menimbulkan anti-intelektualisme. Dan anti-intelektualisme sendiri adalah alat untuk memperpendek demokrasi.[2] Dari buku ini saya paham dengan pepatah “diam itu emas”. Memang kita seharusnya diam untuk apa-apa yang kita tidak pakar didalamnya. “Saya tidak tahu”, seharusnya menjadi pegangan kita ketika kita memang tidak paham suatu hal karena kita tidak sehebat para pakar.

 

Bogor, 19 Januari 2022

10.44 WIB.

Demokrasi bukan keadaan serba setara. Saya percaya jika saya tidak sehebat anda.


[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Tom_Nichols_(academic) , diakses Kamis, 19 Januari 2023 pukul 10.18 WIB.

[2] Tom Nichols, Matinya Kepakaran; The Death of Expertise (Jakarta: Kepustakaan Poluler Gramedia, 2021), hlm. 280.


Comments

Popular posts from this blog

Kebosanan yang Berujung Tragedi

Televisi oh, televisi ...