Televisi oh, televisi ...

 


    Pemandangan sore menjelang malam ini masih sama dengan pemandangan sore menjelang malam hari-hari sebelumnya; ibuku rebahan di depan tv menonton secara maraton acara-acara favoritnya sampai sekitar pukul 22.30. Ya, waktu ibuku tidur pukul 22.30 dan bangun tidur menjelang subuh. Terus begitu setidaknya sudah sekitar 5 tahun belakangan. Tulisan ini merupakan keisenganku yang ku mulai penulisan judul ditahun 2015. Lalu terbengkalai begitu saja sampai tahun 2019. Dan niat untuk melanjutkan tulisan ini hidup ditahun 2021. Menapa? Karena sejak tahun 2015 lalu rutinitas yang terjadi dirumah ku sejak ba’da ashar sampai pukul 22.30 masih sama; ibuku rebahan di depan tv menonton secara maraton acara-acara favoritnya sampai sekitar pukul 22.30.

TV atau televisi atau tipi atau layar kaca. Kita semua sudah tahu benda apa itu. Benda ini menjadi salah satu pusat energi untuk ibuku. Aku heran mengapa. Padahal menurutku fenomena pertelevisian akhir-akhir ini begitu menjengkelkan. Banyaknya acara televisi yang nyeleneh dan terkesan sama hampir disemua stasiun tv. Acara talkshow yang hanya menampilkan sensasi artis. Atau acara kekinian yang berlomba paling “reality”. Atau kehidupan pribadi artis-artis yang dengan mudah bisa kita akses. Ketika aku bertanya apa alasan ibu sangat suka menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi, ibu menjawab “ya, lumayan buat hiburan. Seharian kerja tuh capek. Hiburan yang murah terus bisa dirasain di rumah ya Cuma nonton ini!” Hmmmm, hiburan.

        Saking penasarannya pernah suatu hari aku mendampingi ibu menonton sinetron favoritnya. Dari satu episode yang aku tonton hampir 1,5 jam itu aku dapatkan hanyalah sebuah cerita berisi masalah rumah tangga yang diwarnai dendam dan teka-teki masa lalu. Seorang lelaki dingin kaya raya menikahi perempuan yang pernah menjadi office girl dikantornya karena lelaki ini tahu sang perempuan adalah mantan kekasih adiknya yang disinyalir sebagi pembunuh adiknya. Perempuan yang sudah menjadi suami lelaki dingin kaya raya tersebut memiliki adik tiri yang digambarkan begitu jahat. Tidak segan-segan menyewa preman untuk melakukan kejahatan seperti meracuni, memukuli atau menculik orang-orang yang berusaha mencari bukti siapa sebenarnya yang membunuh adik lelaki dari pria dingin kaya raya. Dari satu episode ini aku sudah bisa langsung menebak pembunuh adik dari lelaki dingin kaya raya tadi. Tentu saja orang yang tidak segan-segan menyewa preman untuk melakukan kejahatan seperti meracuni, memukuli atau menculik orang-orang yang berusaha mencari bukti siapa sebenarnya yang membunuh adik lelaki dari pria dingin kaya raya.

Itu baru sinetron. Setelah sinetron itu habis, ibuku berpindah ke channel lain untuk menonton acara lainnya; ajang pencarian bakat menyanyi yang menampilan seorang miskin yang mampu berjuang diatas panggung menjadi pemenang mengalahkan kontestan lainnya. Ibu bilang dihari sebelum pandemi, pendukung kontestan hadir di studio sebagai penonton. Namun karena alasan protokol kesehatan, di studio hanya ada pembawa acara, juri, pemain musik dan peserta itu sendiri. Dalam acara tersebut ditayangkan 10% menyanyi, 40% juri memberikan komentar dan 50% uraian kisah hidup perjuangan peserta melawan kemiskinan yang dilakukan sebelum masuk ke ajang tersebut. tak jarang ada bagian dimana semua orang dalam studio menangis karena merasa iba terhadap kepahitan hidup yang dialami oleh peserta.

Baru sehari menemani ibuku menonton acara-acara favoritnya aku sudah menyerah. Bagaimana bisa menonton sinetron yang begitu memiliki jalan cerita yang njlimet beratus-ratus episode atau menonton acara tangis menangis yang penuh emosi disebut hiburan.? Malahan aku melihat sebaliknya. Sebenarnya ibu tidak benar-benar mendapatkan hiburan dari acara yang beliau saksikan di depan televisi. Ibu hanya merasa tertarik dan terwakilkan serta berharap suatu saat dirinya atau anak-anaknya bisa memiliki jalan kesuksesan seperti yang ditampilkan di televisi. Singkat cerita ibu sudah tidak bisa mengontrol dirinya meskipun remote tv ada ditangan.

Dua acara yang saban malam ditonton ibuku setidaknya terdapat persamaan yaitu seorang tokoh yang hidup serba kekurangan dengan keajaiban (atau nasib baik) bisa mengubah hidupnya dan keluarganya menjadi serba kecukupan dan hidup enak. Dalam buku Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru dituliskan jika selain menyuguhkan hiburan, televisi juga menampilkan mimpi kolektif bagi para penontonnya.[1] Padahal tanpa ibuku sadari, semakin banyak acara televisi yang menampilkan kisah-kisah sedih itu berarti akan semakin banyak pula pemirsa yang menikmati acara-acara tersebut. Tentulah pemilik industri televisi akan terus menjejalkan penontonnya dengan tayangan-tayangan sejenis demi meraup untung akibat kuasa rating. Pada akhirnya, ide dari penciptaan remote tv dengan tujuan agar manusia mampu mengontrol acara-acara televisi yang mereka konsumsi berbalik mengontrol manusia agar mengonsumsi apapun yang disajikan oleh televisi. Itulah mengapa produk budaya bernama TV atau televisi atau tipi atau layar kaca menjadi pilihan ibu saya (atau banyak ibu diluar sana) sebagai sebuah hiburan yang sangat seru.

Tidak banyak yang bisa kutuliskan mengenai isi dari buku yang kusebutkan diatas. Untuk teman-teman yang penasaran, silakan dibaca sendiri. Dan rasakan efek sinis setelah kalian membaca buku itu. Tentu saja hasil pembacaanku terhadap satu buku tidak bisa ku jadikan alasan untuk melarang ibu menikmati televisi lagi. Karena aku masih ingat dimana letak surga. Dibawahremotetivi Dibawah telapak kaki ibu, bukan?

 

Depok, 28 Maret 2021

16.04 WIB

 



[1] Yovantra Arief, dkk, Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru, (Yogyakarta: Insist Oress, 2015), hlm. 203.

Comments

Popular posts from this blog

Matinya Kepakaran (The Death of Expertise); Sebuah Refleksi Awal Tahun

Kebosanan yang Berujung Tragedi