Membaca Para
Korban; Cerita Menonton Death and The Maiden oleh Rawamangun Concept
Menonton Teater, lagi ....
Sabtu, 17 September 2022 Rawamangun Concept membawakan
naskah Death and The Maiden dalam rangkaian kegiatan FTJT 2022 bertempat di BLK
JakTim. Sebagai sebuah naskah panjang, pertunjukan begitu padat dan tanpa
terasa penampilan hampir selama 2 jam. Bercerita mengenai Paulina Salas,
seorang perempuan aktivis yang sekarang hidup bersama suaminya memasuki masa
demokrasi sebuah negara setelah rezim. Dengan membawa luka penyiksaan di masa
lalu, Paulina akhirnya bertemu dengan orang yang telah menyiksa ia dan aktivis
lainnya 15 tahun silam.
Death
and The Maiden
Saat pertama kali membaca naskah Death and The Maiden saya
yakin jika naskah ini bukanlah naskah biasa. Naskah ini berusaha menceritakan
suatu peristiwa di masa lalu yang melibatkan rasa sakit suatu masyarakat. Dan
benar saja, naskah ini dimulai dengan, “Terjadi saat ini dan tempatnya,
sebuah negara yang mungkin bernama Chile tetapi bisa negara manapun yang sedang
mengajari dirinya dengan pemerintahan yang demokratik ketika baru saja usai
periode panjang kediktatoran”. Ditambah pada halaman 25 naskah Death and
The Maiden yang saya baca, tertera tanggal peristiwa 6 April 1975 dalam sebuah
dialog. Saya pun mencoba membedah latar peristiwa yang mengiringi kejadian
dalam naskah ini.
Jika memang ini terjadi di negara Chile, tahun 1975
merupakan tahun penuh pemerintahan kediktatoran. Dalam suasana ketegangan
Perang Dingin, Pemerintahan yang dibangun Presiden Salvador Allende (menjabat
1970-1973) di Chile tak disukai Amerika Serikat. Alasannya, Allende politikus
Partai Sosialis yang terpilih dengan dukungan Unidad Popular, sekelompok partai
politik berhaluan kiri yang terdiri dari Partai Sosialis, Partai Komunis,
Partai Sosialis Demokrat, golongan Kristen Kiri, dan lain-lain. Dengan dukungan
itu, kebijakan Allende untuk Chile perlahan memperlihatkan hasil positif.
Aspek-aspek ekonomi yang sebelumnya terlihat suram mulai membaik. Allende tak
berkutik dalam urusan pendapatan nasional yang sangat bergantung pada ekspor
tembaga. Richard Nixon selaku Presiden AS kala itu, memberlakukan embargo
ekonomi pada Chile dan membanting jatuh harga tembaga dunia. Imbasnya, neraca
ekonomi Chile kembali kalang kabut dan situasi politik dalam negeri kembali
panas.
Puncaknya, pada 11 September 1973, kelompok militer Chile
yang dipimpin Augusto Pinochet melakukan kudeta terhadap pemerintahan Allende.
Pinochet menggalang kekuatan dengan dukungan penuh dari AS. Serangan ini
membuat Allende tak berdaya, ia ditemukan tewas dalam posisi memegang senapan
seperti baru saja bunuh diri. Pinochet langsung mengambil alih kekuasaan. Ia
kemudian menghabisi para pendukung Allende. Sekitar 5000 orang dikumpulkan di
Stadion Santiago untuk diinterogasi. Banyak dari mereka yang langsung
dieksekusi mati. Siapa Pinocet? Menurut Britanica, Augusto Pinochet Ugarte,
(lahir 25 November 1915, Valparaiso, Chile—meninggal 10 Desember 2006,
Santiago), pemimpin militer yang menggulingkan pemerintahan sosialis Presiden
Salvador Allende dari Chile pada 11 September 1973. Pinochet adalah kepala
pemerintahan militer Chile (1974–1990). Selama pemerintahan diktatornya,
puluhan ribu penentang rezimnya disiksa. Pinochet merupakan lulusan akademi
militer di Santiago merupakan seorang perwira militer. Diangkat menjadi
panglima militer oleh Presiden Allende 18 hari sebelum kudeta yang direncanakan
dan dipimpinnya. Dalam tiga tahun pertama pemerintahannya, Pinocet menangkap
sekitar 130.000 orang, banyak dari mereka disiksa. Pada Juni 1974 Pinochet
mengambil alih kekuasaan tunggal sebagai presiden. Pinochet bertekad untuk
memusnahkan orang-orang golongan kiri di Chile dan untuk menegaskan kembali
kebijakan pasar bebas dalam perekonomian negara.
Paulina Salas, tokoh utama dalam penceritaan naskah ini
merupakan seorang perempuan yang menjadi korban dari sebuah peralihan rezim.
Rezim pemerintahan baru mengharuskan pembantaian terhadap orang-orang yang terlibat
dalam pemerintahan sebelumnya. Hal ini tercermin dengan trauma yang dialami
Paulina sepanjang naskah. Ditambah kesaksiannya :
“pada 6 April 1975, saya single. Saya sedang berjalan
seorang diri sepanjang jalan San Antonio…
sekitar jam dua lima belas siang, dan ketika saya mencapai sudut jalan
Huerfanos, dari arah belakang saya terdengar tiga orang laki-laki
keluar dari mobil, salah seorang menodongkan senjata ke punggung saya,
"Sepatah kata dan aku akan meledakkanmu, Nona.” Dia menempelkan mulutnya
ketelinga saya nafasnya bau bawang. Saya kaget bahwa saya bisa terfokus pada
hal yang tidak begitu penting, makan siang yang baru disantapnya, saya berpikir
bagaimana dia mencerna makanan itu dengan dengan semua organ tubuhnya yang saya
pelajari dari kelas anatomi. Kemudian saya mengoreksi pikiran saya sendiri,
saya akan punya banyak waktu untuk berpikir tentang itu. Mengapa saya tidak
bicara, saya tahu jika kita mengalami kejadian seperti ini seharusnya kita
berteriak, agar menarik perhatian orang-orang siapa tahu—teriakkan namamu. Aku
Paulina Salas, mereka menculik saya. Jika kita tidak berteriak saat kejadian
pertama berlangsung itu berarti kita sudah kalah, dan saya menyerah dengan
begitu mudah, menuruti perintah mereka begitu saja tanpa sedikitpun gerakan
untuk bertahan. Dalam seluruh hidupku, aku selalu jadi penurut. (Cahaya lampu mulai meredup) Dokter itu
tidak ada diantara mereka. Saya jumpa Dokter Miranda pertama kali tiga hari
kemudian…ketika… Itulah saat saya bertemu Dokter Mirana. (Cahaya makin redup dan terus berlanjut dalam
keremangan, hanya kaset rekorder yang nampak disinari cahaya bulan)
Pertama kali, saya pikir dia akan menyelamatkan saya. Dia begitu halus, begitu
baik, setelah apa yang dilakukan oleh yang lainnya padaku. Dan kemudian,
tiba-tiba saja saya mendengarkan sebuah quartet karya Schubert. Sungguh tidak
bisa digambarkan bagaimana perasaan ini ketika mendengar musik indah itu dalam
kegelapan, ketika kamu tidak makan selama tiga hari…ketika tubuhmu remuk
berantakan, ketika ...”
Tentunya
ada semacam kemiripan (atau mingkin naskah ini memang berusaha menceritakan
kembali) masa kepemimpinan diktator ala Pinocet dengan yang Paulina alami.
Sebagai simpatisan golongan kiri di rezim sebelumnya (anggaplah jika Paulina
adalah simpatisan Presiden Allende), tentu Paulina -dan simpatisan lainnya-
mengalami berbagai penyiksaan dimasa rezim yang baru.
Pada 27 Juni 1974, Pinocet mengklaim dirinya sebagai
pimpinan negara tertinggi, dan sebagai presiden pada 17 Desember tahun itu.
Langkah tersebut ditentang beberapa pihak di militer. Tapi Pinochet bergerak
lebih cepat dengan mengorganisasi upaya meratifikasi konstitusi yang baru. Pada
11 September 1980, ia berhasil mengubah konstitusi lama yang telah berlaku
sejak 1925. Konstitusi baru ini dirancang oleh Jaime Guzmán, teman dekat
pinochet. Belakangan, Guzmán mendirikan Independent Democratic Union (UDI) yang
mendukung penuh Pinochet. Konstitusi baru itu pun melahirkan institusi baru
dalam pemerintahan Chile seperti Constitutional Tribunal dan National Security
Council (COSENA). Tentu saja, Pinochet sudah menunjukkan gelagat pemerintahan
diktator. Ia membekukan partai-partai oposisi dan melarang aktivitas mereka.
Ribuan orang menjadi incaran kekejaman rezim Pinochet. Ribuan nama yang mengisi
catatan orang hilang itu kemudian berkembang menjadi catatan kematian.
Lima belas tahun kemudian, Paulina bertemu dalam sebuah
kebetulan yang manis dengan orang yang menyiksanya selama masa pemerintahan
diktator di negaranya. 1990, saya perkirakan pertemuan itu terjadi. Roberto
Miranda, seorang dokter yang ikut terlibat menyiksa orang-orang kiri simpatisan
pemerintah sebelumnya. Pada 11 Maret 1990 Pinochet lengser dan Chile menjadi
negara demokratis. Namun ia tetap memegang posisi tertinggi militer Chile
hingga Maret 1998. Ia juga mendapatkan perlindungan dan penghormatan militer
sehingga terbebas dari tuntutan hukum dalam bentuk apapun. Posisi Senator for
Life yang diberikan kepadanya juga turut andil dalam melindungi Pinochet dari
tuntutan pelanggaran hak asasi manusia selama menjabat sebagai presiden.
Padahal, untuk masalah ini, tuduhan terhadap rezim Pinochet meluas dari
pembunuhan, penyiksaan, hingga penculikan yang jumlahnya mencapai ribuan jiwa.
Bahkan, pada Oktober 1979, The New York Times menulis bahwa Amnesty
International telah mengantongi dokumen penculikan sekitar 1500 orang Chile
sejak 1973, yang 663 di antaranya adalah anggota Movimiento de Izquierda
Revolucionaria (MIR), gerakan sayap kiri Chile (PDF). Tekanan internasional
akhirnya tak bisa dihindari. Pada Oktober 1998 Pinochet ditangkap di London
dengan tuduhan genosida dan aksi teror yang melibatkan pembunuhan. Akhirnya
Pinochet menjalani hukuman tahanan rumah di Wentworth Club. Namun, ia
dibebaskan pada Maret 2000 oleh Menteri Dalam Negeri Britania Raya Jack Straw
atas alasan kesehatan.
Paulina yakin betul jika Miranda adalah pelakunya. Bau
badan, kulit dan hobinya mendengarkan musik-musik Schubert. Musik yang selalu
diputar bersamaan dengan penyiksaan yang dialami Paulina dan banyak orang
lainnya. Miranda bukan satu-satunya dokter yang terlibat dalam menyiksa
orang-orang. Dalam naskah dijelaskan jika dokter memang dilibatkan sebagai
konsultan dalam penyiksaan.
“Gerardo
: untuk melihat Mungkin anda mengetahui, Dokter, bahwa polisi rahasia menggunakan
beberapa orang dokter sebagai konsultan pada tahap penyiksaan…”
Pertunjukan
yang Asyik
Semua serba masuk akal. Set ruang tamu dekat ruang makan.
Kamar utama dan kamar tamu. Hanya saja ada penempatan yang kurang jelas
mengenai posisi rumah dan penggambaran sekitar rumah. Ketika adegan Paulina
mengancam dokter di teras rumahnya, saya pikir (sebagai penonton) sang dokter akan
dijatuhkan dari lantai dua. Ternyata akan di ceburkan ke laut yang artinya
rumah berada di tepi laut. Dan ketika saya membaca penggambaran suasana dalam
naskah, disana dijelaskan jika setting tempat memang rumah pantai dipinggir
laut. Mestinya bisa di dukung pencahayaan atau suara laut yang jelas saat ada
adegan Paulina sedang berada di balkon. Suara laut yang bergemuruh untuk
menandakan mereka memang di tepi laut ketika Paulina akan mengeksekusi dokter.
Tokoh Paulina dibawakan dengan emosi yang hampir tinggi dari
awal. Tidak terlihat natural dalam perpindahan emosi. Selalu melakukan gerakan-gerakan
kecil yang tak berarti seperti membetulkan wig berkali-kali. Tokoh Roberto
Miranda tidak memberikan kesan apapun ketika pertama masuk panggung. Terkesan
seperti laki-laki tua mabuk yang memang berniat mengganggu pemilik rumah.
Untungnya sang pemilik rumah langsung menunjukan keakraban sehingga saya
langsung paham jika mereka memang saling kenal. Tapi saya sangat menikmati
ketika adegan penyiksaan oleh Paulina. Escobar berusaha untuk sangat sabar
sekali menghadapi istrinya. Bagaimana Escobar menunjukan cintanya pada Paulina
yang terus histeris dan juga rasa tanggungjawabnya kepada tamu. Saya menikmati
sepanjang pertunjukan. Dua jam sangat tidak terasa karena semua mengalir dengan
masuk akal.
Musik sudah sangat bulat karena yang diputar memang lagu
asli Death and The Maiden karya Schubert. Tak ada musik baru yang sengaja
dibuat untuk pementasan ini. Musik jadi bisa masuk dengan sangat baik dalam
beberapa pengadegan. Riasan tokoh sudah cukup baik. Cukup menggambarkan
karakter, usia dan keadaan pemain. Suara tokoh sudah cukup. Hanya sedikit saja
momen dimana suara tidak jelas ketika emosi pemain sedang tinggi dan lesapnya
suara pemain khususnya dokter Miranda.
Pada
akhirnya
Kita benar-benar menyaksikan jika keseluruhan tokoh dalam
naskah ini adalah korban. Paulina menjadi korban rezim kediktatoran di
negaranya begitupula Dokter Miranda yang awalnya merasa berat karena sumpah
profesi yang dia miliki, mau tidak mau terlibat menyiksa para tawanan. Dan
Gerardo yang juga menjadi korban rezim setelah ini untuk mengungkap pelanggaran
hak asasi manusia sejelas-jelasnya. Antara mengikuti negara yang memiliki
syarat dalam komisi, atau membantu memulihkan istrinya yang menanggung beban
penyiksaan bertahun-tahun. Namun semua berakhir dengan kesadaran. Para tokoh
sadar bahwa kita hidup hari ini. Semua dendam dan rasa sakit di masa lalu
mereka coba untuk mengikhlaskan. Kesadaran ini pula yang membuat saya kaget
jika akhir dari pementasan yang dibawakan Rawamangun Concept penuh dengan
bentuk penyadaran.
Bogor, 4 Oktober 2022
07.44 WIB.
Sumber :
https://tirto.id/tangan-besi-augusto-pinochet-ambruk-dihantam-gelombang-demokrasi-gl3m,
diakses pada 20 September 2022 pukul 18.45 WIB.
https://www.britannica.com/biography/Augusto-Pinochet,
diakses pada 25 September 2022 pukul 12.21

Comments
Post a Comment