2020 memang asu, lantas kau bisa apa?

 




Hari ini saya bangun pagi dengan kesadaran penuh. Bersiap meninggalkan tahun yang lalu dan menyusun strategi menghadapi tahun depan. Sayangnya saya tidak diciptakan sebagai manusia yang bisa bodo amat dengan apa yang terjadi kedepannya. Saya hidup hari ini dan untuk masa yang akan datang. Dan pandemi membuat saya lebih peduli untuk menyiapkan segala sesuatu karena; masa depan siapa yang tau.

2020 dibuka dengan berita banjir dimana-mana. Saya ingat betul bagaimana seisi tv di bulan Januari diwarnai dengan berita banjir ini. Jumlah kerugian yang entah sudah berapa digitnya terus disebutkan dalam berita. Memasuki Februari mulai ada kecemasan-kemasan baru mengenai sebuah virus yang membawa penyakit mematikan. Dibulan ini saya masih beraktivitas seperti biasa. Harapan untuk menjadi tahun yang baik belum terlihat di bulan ini.  Tak lama diumumkanlah wabah pandemi. Covid-19 yang dibawa oleh virus Corona. Bulan Maret seluruh kehidupan berubah drastis, dan hampir lumpuh total. Saya yakin tak hanya kehidupan saya. Semua berubah karena pandemi ini.

2020 adalah tahun yang padanya saya mengharapkan banyak hal. Perbaikan keadaan ekonomi lebih tepatnya. Tapi apa daya, pandemi mengahancurkan segalanya. Saya kehilangan 2 pekerjaan dari 3 pekerjaan yang saya lakoni. Saya dipaksa untuk melamar dibanyak tempat. Saya dipaksa untuk mengevaluasi diri saya setiap detiknya. Saya dipaksa untuk menyalahkan diri saya atas segala kegagalan yang saya alami. Saya mendengar berita mengenai banyak kematian setiap hari. Saya bertemu dengan manusia yang itu-itu saja dirumah. Saya tidak kemana-mana dan tak bisa mengeksplor apa-apa. Saya mati rasa. Dan ini kematian perasaan pertama saya.

Bulan April, Mei, Juni, Juli, Agustus dan September adalah bulan terbanyak saya menangis. Kenestapaan tiba-tiba saja menjangkit dari berbagai penjuru mata angin. Saya kembali dipaksa melakukan segalanya sendiri dan mengevaluasi berbagai hal sendiri. Kehilangan orang tercinta dan berbagai pertemuan singkat entah kenapa saya alami. Menyalahkan Tuhan? Oh sudahtentu. Tapi porsinya masihsekian persen dari saya menyalahkan diri sendiri. Pikiran menyerah tentu selalu ada. Tapi pada akhirnya saya memilih tetap hidup. Mati konyol tidak akan menyisakan memori apapun di Bumi.

Setelah melalui berbulan-bulan penuh pesakitan, November menjadi bulan dengan saya dalam keadaan kesadaran penuh. Ya, dibulan ini saya masih berusaha berdamai dengan banyak hal. Saya berusaha mengenal diri saya dan lingkungan dimana saya hidup. Saya mulai menjadi volunteer untuk mengisi waktu sambil berinteraksi dengan banyak orang, meski secara daring. Saya banyak memulai hal-hal baru yang saya kira bisa menjadi bekal untuk di tahun mendatang.Tapi lagi-lagi; masa depan siapa yang tau?

Desember. Saat ini optimisme itu muncul. Selain hikmah, saya rasa tidak ada lagi yang bisa dipetik dari semua rentetan kejadian selama setahun ini. Entah bagaimana caranya tiba-tiba saya bisa mensyukuri banyak hal; pandemi membuat saya berhasil mengetahui siapa saya dan mau kemana saya, pandemi berhasil membuat saya berkutat pada banyak hal yang awalnya saya sepelekan, pandemi berhasil membuat saya menyadari banyak kekurangan dalam saya yang harus saya jadikan potensi, pandemi berhasil membuat saya lebih ikhlas tehadap perpisahan dan pertemuan, pandemi berhasil menyadarkan kenapa saya mesti hidup, pandemi berhasil membuat saya makin yakin pada Tuhan yang saya yakini hari ini dan seterusnya. Gemblengan yang saya dapat dari bulan-bulan lalu saya harap bisa jadi bekal untuk saya tetap hidup di tahun 2021 hingga tahun-tahun selanjutnya. 2020 memang asu, lantas kau bisa apa?

 

 

Depok, 31 Desember 2020


Comments

Popular posts from this blog

Matinya Kepakaran (The Death of Expertise); Sebuah Refleksi Awal Tahun

Kebosanan yang Berujung Tragedi

Televisi oh, televisi ...