Perempuan Dalam Bingkai Cerita (Bagian I)
“Heh! Ngelamun aja. Lu kenapa
sih?”
“Hah? Ahhh engga kok. Gue gak
kenapa-kenapa. Gue Cuma lagi mikir aja.”
“Mikir? Mikirin apaan? Tugas
kuliah? Cowok? Kerjaan?”
“Bukan kok bukan. Hmmm… Gue Cuma
lagii mikir aja. Gimana ya caranya ke Pulau Buru?”
“HAH?”
Sumber gambar : Kompasiana
Harus aku akui jika beberapa hari
ini pikiranku sedang melayang jauh kesebuah tempat nan jauh disana. Kesebuah
pulau yang bahkan aku sendiri tidak mampu membayangkan isinya. Untukku yang
anak Jakarta tulen, mesti kuakui yang aku tahu hanya macet, mall, transjakarta,
dan….. segala keruwetan. Tapi kali ini lain, aku penasaran terhadap apa yang
belum pernah aku lihat. Berawal dari minggu lalu, aku mendapati sebuah surat.
Selama empat hari berturut-turut aku mendapat sebuah surat yang aku tidak tahu
siapa yang mengirimkannya. Dan, inilah ceritaku…
Hari pertama
“Minggu ini kamu ndak pulang lagi? Sudah sebulan, loh Kirana. Kamu baik-baik aja kan? Kenapa ndak pulang? Kamu ndak direkrut sama organisasi aneh-aneh kan?”
Pagi ini, 6 Agustus 2016, ku mulai
pagi dengan suara bernada serius dari ujung telpon sana. Suara Ibu dengan
sejuta pertanyaan menembus telingaku. Kulihat kalender yang tergantung pasrah
di atas meja belajar. Ahhh, pantas. Sudah sebulan ini aku tidak pulang ke
rumah. Pantas ibu begitu mencecarku dengan pertanyaan konyol. Setelah
kutenangkan ibu dengan berbagai alasan kegiatan di kampus, telepon ditutup.
Kuraih handuk dan bersiap keluar kamar untuk mandi. Agendaku hari ini: mencari
sumber untuk membuat esai mata kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia.
Baru kubuka pintu kamar, tiba-tiba
ada sesuatu yang jatuh tepat di depan jempol kakiku; sebuah surat. Dengan
amplop berwarna hijau dan kuning. Tanpa nama pengirim dan nama tujuan
pengiriman surat. Tapi surat ini jatuh bersamaan dengan terbukanya pintu kamar,
mungkin ini memang surat untukku. Penasaran, akhirnya kubuka surat itu lalu
kubaca.
Surat ini berisikan cerita
mengenai kedatangan Jepang pada bulan Maret 1942. Jepang yang awalnya datang ke
Indonesia dengan membawa harapan kemerdekaan 100% bagi Indonesia nyatanya
membawa derita yang berkepanjangan. Sandang dan pangan menjadi sumber derita
ada masa itu. Demi mendapat sepiring nasi, rakyat mesti menempuh jalan yang
panjang. Seluruh lapisan masyarakat hidup dalam kekuarangan, kelaparan dan
kemiskinan.
Keadaan yang sedemikian susah,
terhembus kabar jika Pemerintah Pendudukan Jepang akan memberi kesempatan
belajar bagi para pemuda dan pemudi Indonesia ke Tokyo dan Shonanto
(Singapura). Tapi anehnya, sasaran kebijakan tersebut kebanyakan adalah untuk
perawan remaja. Dan hembusan kabar tersebut makin kencang pada periode tahun
1943.
Memang tidak ada selembaran atau
pernyataan pasti mengenai kesempatan belajar tersebut. Semua menyebar begitu
saja dari mulut ke mulut. Pada saat itu banyak pemuda dan pemudi Indonesia yang
dengan senang hati mengikuti perintah Jepang untuk ikut bersama mereka. Namun
ada juga yang mesti diambil paksa dari keluarga mereka. Ya, begitu banyak kata
“paksa”, “pemaksaan” dan “dipaksa” dalam surat ini. Meski tak mengerti benar,
harus kuakui aku cukup hanyut dalam gaya cerita si penulis surat.
Surat ini diakhiri dengan
penjelasan bahwa janji pendidikan yang diberikan Jepang tidak pernah terwujud.
Nyatanya, perawan remaja yang rela meninggalkan kampung halaman dan keluarga,
yang harus menempuh pelayaran berbahaya dalam keadaan takut akan ancaman Jepang
terhadap keluarga mereka tersebut, berakhir menjadi pemenuh impian seks serdadu
Jepang.
Surat ini belum berakhir, si
penulis berjanji akan mengirim surat-surat lainnya. Dahiku cukup berkerut
ketika membaca janji si penulis tersebut. Tapi tidak kuambil pusing, toh
mungkin itu hanya tulisan aneh dari
seorang pencari perhatian.
Depok, 19
Mei 2018
21.30
Terinspirasi
dari buku Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer; Catatan Pulau Buru karya
Pramoedya Ananta Toer.

Comments
Post a Comment