Toleransi ala Cak Nun
Sumber :
www.google.com
“Salam berarti perdamaian
Islam
berarti pembebasan menuju perdamaian
Islam
berarti kerja emansipasi menuju kehidupan yang penuh kedamaian bagi semua
manusia.”
-Bila Sebuah Batu Tergeletak di Jalan, Emha Ainun Nadjib-
Belakang ini Indonesia tengah
dirundung pemberitaan mengenai konflik. Bukan hanya konflik yang melibatkan
antar partai, namun suku dan agama. Kita tentu masih ingat bagaimana dahsyatnya
konflik antar suku di Poso. Yang terlintas dalam kepala kita ketika mendengar
nama “Poso” pastilah ingatan mengenai konflik antar komunitas yang berkepanjangan
dan peristiwa berdarah yang begitu mencekam. Selain suku, tentu kita masih
ingat kerusuhan di Tolikara Papua. Masalah yang disinyalir berawal dari
dibakarnya rumah ibadah berhasil menambah panjang daftar konflik yang berbau
SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) di Indonesia.
Sebenarnya, konflik bernuansa etnis
dan agama semakin meningkat pada era reformasi. Bila ditinjau dari sisi
psikologis, ini merupakan hal yang wajar karena merupakan akumulasi dari
ketidakadilan dalam proses politik pada masa orde baru. Ditambah lagi banyak
daerah yang tidak menikmati hasil pembangunan karena sistem yang sentralistik,
yakni yang hanya terpusat di Jakarta saja. Hal ini membuat masyarakat jadi
lebih mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dihembuskan oleh oknum-oknum tidak
bertanggungjawab yang memiliki kepentingan dari berlangsungnya konflik.
Ditengah konflik yang banyak terjadi
di Indonesia, hadir sosok yang berusaha berdamai dengan konflik. Ya, Emha Ainun
Nadjib. Sosok yang dikenal dengan panggilan “Cak Nun” ini banyak menebar cinta
keseluruh pelosok negeri. Melalui gerakan yang bernama “Kenduri Cinta”, Emha
berhasil menebar cinta dengan cara yang provokatif. Yang bertujuan untuk
membentuk menuju pemerintahan yang bersih.
Dalam tulisan ini, sedikit banyak
saya akan membahas mengenai siapa Emha Ainun Nadjib dan mengapa saya tertarik
untuk mengangkat sosok beliau untuk dibahas. Selain itu tulisan ini pun
membahas mengenai pemikiran beliau yang memiliki dampak besar terhadap
Indonesia.
Biografi
“Entah siapa yang mendidikku dulu
sehingga kini menjadi manusia yang rewel. Aku sering kewalahan menghadapi
diriku sendiri. Yang Nadjib tenteram-tenteram dan dingin saja. Yang Ainun bisa
santun dan akomodatif. Tapi si Emha ini mblunat, mbrengkel, ngeyel tak karuan.”
-Emha Ainun Nadjib dalam buku
Tuhan pun Berpuasa-
Muhammad Ainun Nadjib. Lahir di
Jombang, 27 Mei 1953. Beliau adalah anak keempat dari lima bersaudara. Nama
Muhammad disingkat menjadi “M.H.” yang pada akhirnya menjadi “Emha.” Beliau
juga dikenal dengan panggilan “Cak Nun.” Cak merupakan panggilan akrab namun
hormat terhadap saudara tua laki-laki.
Emha lahir sebagai anak “rakyat
jelata”. Anak dari pasangan Muhammad Abdul Lathif yang seorang petani sekaligus
kiai dan istrinya Chalimah. Dalam menggambarkan kedua orang tuanya, Emha
berkata :
“Ayah saya adalah seorang petani
dan kiai yang memiliki sebuah surau, tetapi dia adalah pemimpin masyarakat,
tempat bertanya dan mengadu orang desa untuk berbagai masalah yang tidak dapat
mereka pecahkanmereka ajukan ke orang tua saya untuk dipecahkan. Bahkan ketika
saya masih dalam buaian, sampai saya menjadi anak kecil, saya seringkali dibawa
ibu mengunjungi para tetangga untuk menanyakan apa yang mereka masak, apakah
mereka menyekolahkan anak-anak mereka, dan banyak masalah lain.”
Pengalaman inilah yang membentuk
kesadaran serta sikap sosial dalam diri Emha. Semua nilai-nilai luhur yang
diajarkan, selalu berdasaran pada agama. Karena kunci ajaran dari Islam menurut
Emha adalah menolong sesama manusia dari kemiskinan dan membuat mereka mampu
berfungsi sebagai manusia seutuhnya.
Masa kanak-kanaknya beliau
habiskan di desa Menturo, Jombang Jawa Timur. Daerah yang berbeda Jombangnya
dengan Abdurrahman Wahid dan almarhum Nurcholis Madjid. Dari tempat inilah Emha
mulai memasuki dunia, mengembangkan gagasan sosial, intelektual, kultural dan
spiritualnya.
Setelah menamatkan sekolah
dasarnya, Emha belajar di Pondok Pesantren Gontor, sebuah lembaga pendidikan
Islam yang dikenal dengan cara-caranya yang progresif. Tapi Emha tidak tahan
menjalani disiplin yang seperti itu. Emha dikeluarkan dari Madrasah Pondok
Modern Gontor, Ponorogo Jawa Timur, ditahun ketiga masa belajarnya karena
memimpin demonstrasi melawan satpam sekolahnya. Kemudian beliau pindah sekolah
ke Yogyakarta dan berhasil menamatkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah.
Pendidikan formal Emha berakhir
pada semester satu Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia
lebih memilih belajar di Jalan Malioboro. Selama lima tahun, yakni dari tahun
1970-1975, Emha hidup menggembel di Jalan Malioboro sambil mempelajari sastra
dari seorang guru yang dihormatinya, Umbu Landu Paringgi. Sosok begitu
misterius dan berpengaruh terhadap Emha. Lewat sebuah Klub yang bernama Persada
Studi Klub (PSK), Emha banyak belajar mengenai sastra. Lewat diskusi-diskusi
dengan sesama seniman dan penulis, lingkungan ini berhasil menyumbangkan
pemikiran Emha secara sosial, kultural, intelektual, dan spiritual. Pada tahun 80-an, Emha juga
aktif terlibat dalam proses berteater bersama Teater Dinasti.
Periode akhir tahun 70-an hingga
80-an merupakan masa paling produktif bagi seorang Emha Ainun Nadjib. Selama
masa ini, Emha berhasil menerbitkan beberapa antologi puisi. Selama 30 tahun
terakhir Emha mneghasilkan 25 antologi puisi yang terdiri dari 800 puisi dari
berbagai genre.
Hingga kini, Emha bersama grup orkes
gamenlan Jawa nya bernama Kiai Kanjeng masih aktif menghadiri Kenduri Cinta dan
keliling dunia untuk menebarkan cinta. Cinta yang tak hanya mengenai dua insan
yang tengah kasmaran, namun cinta dan kepedulian terhadap sesama, terhadap diri
sendiri, dan terhadap Tuhannya.
Pemikiran
Saya mengenal Emha Ainun Nadjib
pertama kali ketika saya tidak sengaja berkunjung ke Taman Ismail Marzuki.
Ketika itu, minggu ketiga di bulan Agustus 2015, ada acara Kenduri Cinta yang
banyak didatangi oleh Maiyah (perkumpulan yang suka menghadiri pengajian yang
diselenggarakan Emha Ainun Nadjib). Mulai dari situ saya intens mencari buku
atau artikel yang membahas soal beliau. Entah yang ditulis oleh orang lain
maupun tulisan beliau sendiri.
Hampir disetiap bukunya, Emha selalu
berusaha menggunakan pendekatan Islam sebagai lensa untuk memandang sesuatu
atau untuk memecahkan masalah. Dengan lihai dan kecerdikan kata-kata, Emha
menjadikan Islam sebagai jawaban terakhir berbagai permasalahan dinegeri ini.
Semenjak lengsernya Soeharto dan
segala kerusuhan sosial pada waktu itu, Emha telah menanggapinya dengan
berbagai acara pertemuan dengan publik di berbagai tempat. Acara pertemuan ini
dikenal dengan sebutan Kenduri Cinta. Kenduri Cinta lebih bersifat kejiwaan
daripada pergelaran atau pertunjukkan. Ini merupakan sarana merajut cinta
antara orang-orang yang sering terkena sengketa, kemiskinan, dislokasi dan
tekanan sosial lain. Emha berhasil menyembuhkan banyak keretakan-keretakan
sosial di seluruh Indonesia, membantu memecahkan berbagai masalah akut dimana
saja beliau dan gamelan Kiai Kanjeng diundang.
Lewat pertemuannya dengan berbagai
jenis manusia yang memiliki segudang masalah ini, Emha memperkenalkan sebuah
konsep pemikiran mengenai toleransi. Saya rasa ini merupakan buah pemikiran
Emha yang memiliki dampak yang besar bagi khalayak banyak.
Dalam tahun-tahun terakhir ini
Emha boleh dikatakan tidak henti-hentinya mengadakan tur ke berbagai provinsi
di Indonesia. Di sanalah Emha disanjung-sanjung sebagai pahlawan bagi
orang-orang miskin dan terpinggirkan. Tanpa lelah beliau aktif mengupayakan
harmoni antar etnis dan antar agama melalui musiknya, khususnya didaerah-daerah
yang dilanda konflik. Kerja-kerja dalam mengkampanyekan cinta, mencangkup
interaksi dengan seluruh golongan manusia, para pemimpin masyarakat dan agama,
para aparat kemanan, para petani dan orang miskin yang menjadi korban
pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik. Dengan cara ini, Emha
menunjukan komitmen sepenuh hati terhadap pluralisme dan toleransi di
Indonesia.
Emha Ainun Nadjib memiliki
pengaruh yang penting terhadap Islam di Indonesia pada zaman modern ini. Tumbuh
menjadi dewasa di Jawa Timur ; Emha hidup bersama gerakan Nahdatul Ulama (NU)
yang memiliki massa terbanyak didunia. Namun Emha menamatkan pendidikannya
dengan berdasar pada Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua di
Indonesia. Karena itu Emha memiliki akar di kedua mahzab pemikiran Islam di Jawa.
Bentuk toleransi yang ditunjukan
Emha bukanlah hanya pada kehidupan sehari-hari, namun disetiap aksi panggung
bersama Kiai Kanjeng pun begitu. Pada 18 Oktober 2005 silam di Yogyakarta dalam
acara Kenduri Cinta, musik Kiai Kanjeng mengiringi suster-suster gereja untuk
bernyanyi. Tidak hanya itu, pada Kenduri Cinta di Jakarta, Cak Nun
mempersilahkan Pendeta Nathan memimpin doa untuk membuka acara tersebut. Tidak
hanya didalam negeri, ketika Cak Nun beserta grup Kiai Kanjeng tengah tur
keluar negeri, toleransi begitu kuat terasa digaungkan. Tak jarang Emha
menyenandungkan shalawat dengan aransemen musik terkenal di negara yang beliau
kunjungi. Seperti ketika di Inggris, Emha mengaransemen musik shalawatan dengan
musik-musik The Beattles. Ditengah ketakutan masyarakat Eropa terhadap Islam
dan terorisme, Emha berhasil membuat dirinya dipandang sebagai seorang Islam
namun bukan teroris.
Kesimpulan
Emha atau Cak Nun atau Kiai
Kanjeng atau siapapun kita menyebutnya, sosok Emha Ainun Nadjib memang lah
tidak seterkenal penulis-penulis dimasanya seperti Rendra, Sapardi Djoko Damono
dan lain sebagainya. Emha berhasil memilih jalan sunyi ditengah permasalahan
dunia. Emha berhasil memilih jalan spiritual tanpa meninggalkan urusan dunia.
Malahan beliau turut campur dalam menyelesaikan masalah dunia orang-orang yang
datang kepadanya untuk meminta bantuan.
Dalam bukunya yang berjudul Tuhan
pun Berpuasa, Emha mengatakan jika dunia adalah wadah menuju tempat seluruh
makhluk kembali. Tinggal kini memilih menjalankan kehidupan dunia seperti apa ;
menduniakan akhirat, mengakhiratkan dunia, atau mendunia-akhiratkan kehidupan.
Dalam hal toleransi, Emha telah berhasil mendunia-akhiratkan kehidupan. Membuat
dunia menjadi begitu damai dan tentram dengan cinta yang beliau sebarkan.
Emha adalah orang besar yang
banyak bergaul dengan orang kecil. Menjadikan Islam begitu merakyat dan
menjadikan Islam sebagai jawaban terakhir dari semua permasalahan dunia.
Menurut Emha, tidak ada jalan buntu untuk semua orang yang mau mencari jawaban
bersama Islam. Orang-orang seperti Emha lah yang membuat Islam begitu disegani
oleh golongan lain. Emha tidak pernah menyalahkan orang yang tidak menganggap
Islam adalah agama yang benar. Karena menurut Emha jika semua orang menganggap
Islam benar, banyak orang yang akan percaya pada Islam dan mengimani Islam. Ini
hanya perihal sudut pandang. Dan tugas seorang Islam adalah harus bersikap
toleran. Toleransi bukan mengikuti tapi menghargai. Karena sesuai dengan yang
telah dituliskan dalam surat Al-Kafiruun ; “Untukmu agamamu, dan untukku
agamaku.”
Daftar Pustaka
Betts, Ian L. Jalan Sunyi Emha. Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2006.
Nadjib, Emha Ainun. Tuhan pun
Berpuasa. Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2012.
NB : Saya banyak mengutip dari
kedua buku sumber di daftar pustaka, namun sengaja saya tidak tampilkan dengan
beberapa pertimbangan. Mohon maaf dan terima kasih.

Comments
Post a Comment