Resume Buku : Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda karya Tineke Hellwig
Sumber gambar : Google.Com
Dalam tugas mata kuliah Sejarah
Sains dan Teknologi pada semeter 2 lalu saya menuliskan jika sejak zaman
berdirinya Universitas pertama, belum besarnya peranan perempuan dalam pendidikan,
kini khasanah pengetahuan saya bertambah berkat membaca buku karya Tineke
Hellwig ini. Buku ini memang membahas bagaimana pandangan mengenai perempuan
banyak diambil dari novel-novel yang ditulis oleh orang Belanda maupun Tionghoa
dimana perempuan pribumi dijadikan sebagai tokoh utama. Dari situ kita bisa
mengetahui bangaimana pemikiran penulis (dan mungkin mayoritas masyarakat kulit
putih) terhadap perempuan pribumi.
Buku ini diterbitkan oleh Yayasan
Obor Indonesia pada tahun 2007. Dibuka dengan penjelasan bagaimana pergundikan
bisa terjadi di Hindia Belanda. Gundik atau yang biasa kita kenal dengan
sebutan “nyai” adalah perempuan pribumi yang dipelihara oleh orang Belanda
ketika itu. Status perempuan pribumi ini bisa benar-benar menjadi istri dengan
syarat beragama sama dengan lelaki Eropa, mau pun dengan suka rela hanya
menjadi “nyai”. Seperti yang kita ketahui bersama, kedatangan bangsa Belanda ke
Hindia Belanda ketika itu didomonasi oleh kaum laki-laki. Hal itu masih
disebabkan karena laki-laki dianggap memiliki pengetahuan yang lebih besar dari
kaum perempuan. Berhubungan dengan kaum laki-laki memiliki kesempatan lebih
besar untuk bersekolah dibanding perempuan.
Ada beberapa alasan mengapa lelaki
Eropa banyak yang memelihara perempuan pribumi sebagai “nyai” nya. Pergundikan
banyak terjadi dikalangan tentara ataupun yang bekerja dalam pemerintahan
Belanda. Memelihara “nyai” memang seakan menjadi realitas sehari-hari para
tentara. Adanya aturan dari pemerintah bahwa tentara tidak boleh menikah
menjadikan pilihan untuk memelihara gundik sebagai alternatif memenuhi
kebutuhan seks mereka. Pemerintah mengaggap jika seorang tentara memiliki istri
pastinya akan merusak konsentrasi dan mengurangi pengabdian tentara tersebut.
Karena waktu dan pikirannya akan tersita lebih banyak untuk keluarga dibanding
untuk negara. Selain itu biaya hidup tentara bujangan dengan yang sudah menikah
tentu lebih sedikit yang masih sendiri. Sehingga mereka memilih untuk memiliki
gundik yang sudah jelas hanya melakukan seks dengan satu orang dibanding mesti
datang ke rumah bordil yang beresiko menularkan penyakit kelamin. Selain itu
alasan kedua adalah adanya peraturan dari pemerintaha bahwa semua perempuan
pribumi yanga ingin menikah dengan lelaki Eropa harus lah memeluk agama
Kristen. Ini memang menjadi salah satu misi kedatangan Belanda ke Hindia
Belanda, untuk mengyebarkan agama Kristen. Hanya sedikit perempuan pribumi yang
mau masuk Kristen dengan imbalan dijadikan istri sah dari lelaki Eropa. Namun
bagi yang tidak mau masuk kristen tapi sudah terlanjur saling mencintai, lagi
lagi pergundikan menjadi pilihan yang dianggap tepat.
“Nyai” biasanya diambil dari kalangan
budak ataupun pribumi yang miskin. Hal ini dilakukan dengan sukarela oleh
perempuan pribumi. Seorang “nyai” tidak memiliki hak apapun. Tidak mermiliki
hak atas anak maupun posisinya. Jikalau majikan mereka meninggalkan mereka
tanpa menafkahi pun, si wanita tidak bisa menuntut apapun. Dikalangan tentara,
biasanya “nyai” di dipindahtangankan kepada lelaki Eropa lain begitu saja jika
sang majikan sudah tidak mau bersama lagi. Jika sudah terlanjur memiliki anak, anak
ini akan di serahkan kepada yayasan yatim piatu untuk nantinya akan dijadikan “nyai” juga.
Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak
hasi hubungan ini? Mereka bebas saja dibuang oleh ayah mereka dan bebas saja
diambil dan dijauhkan dari ibu mereka oleh sang ayah. Ya, untuk status si anak
memang ayah yang keturunana Eropa lah yang memiliki peranan besar. Jika sang
anak dilahirkan dengan orang tua tanpa ikatan perkawinan dan diakui oleh sang
ayah, maka anak tersebut berkebangsaan Eropa. Namun jika si anak lahir diluar
perkawinan dan tidak diakui sang ayah, maka anak tersebut dianggap inlander.
Namun tidak hanya maraknya perkawinan antara lelaki Eropa dengan perempuan
pribumi, buku ini pun mencatat jika banyak wanita Eropa yang menikahi lelaki
pribumi. Sampai-sampai pada abad ke-18 diperlukan persetujuan mengenai
pernikahan antara wanita eropa dengan laki-laki pribumi dari Gubernur Jendral.
Banyak terjadi didaerah Maluku dan Manado dengan menggunakan tradisi Kristen,
lelaki pribumi banyak menikahi wanita Eropa.
Dalam bab-bab selanjutnya, diuraikan
lah berbagai novel yang menjadikan perempuan pribumi sebagai peran utama.
Seperti pada noovel Tjerita Njai Dasimah, yang menceritakan kisah pilu seorang
Nyai bernama Dasimah yang hidup bahagia bersama tuannya yaitu William. Alkisah
seorang tukang kebun William yang bernama Samiun jatuh cinta pada Dasimah.
Istri Samiun dan ibunya tidak menyukai jika Samiun mencintai seorang bekas nyai
Belanda yang sudah tidak perawan dan hidup tanpa perkawinan tersebut. Diakhir
cerita Nyai Dasimah dibunuh oleh istri dan ibu Samiun dengan menyuruh preman
seorang preman bernama bang Puase.
Adapun novel yang berjudul Nyai Paina. Novel ini berkisah tentang
seorang gadis muda pribumi bernama Paina yang terpaksa menikah dengan Braot,
seorang Belanda demi membantu sang ayah keluar dari fitnah. Sang ayah yang
bekerja sebagai bendahara di perusahaan tebu milik Belanda dijebak oleh Braot.
Dengan dalih kas perusahaan telah hilang, Braot meminta agar Niti (nama ayah
Paina) menyerahkan Paina untuk menjadi tebusan segala kesalahan Niti. Dengan
terpaksa dan penuh dendam Paina menjadi nyai dari Braot. Namun Paina berniat
untuk membunuhnya dengan cara datang ke kampung yang saat itu sedang ditimpa
wabah cacar dan Paina berhasil menularkan cacar itu pada Braot. Seminggu
kemudian Braot pun meninggal. Paina hampir meninggal karena cacar tersebut.
Sebagai balasan Paina harus hidup dengan wajah penuh bopeng namun hidup bahagia
dengan menikahi lelaki Jawa. Kisah lain menceritakan hubungan antar voorkinder
(anak hasil hubungan dengan nyai) dan istri sah sang lelaki Eropa. Novel ini
berjudul Willie’s Mama dimana istri dan mertua Otto Dorman tidak bisa menerima
voorkinder nya yaitu Willie. Ibu Willie yang meninggal sejak Willie masih kecil
menyebabkan ia harus tinggal bersama Cecile Dorman. Penolakan besar besaran dan
perlakuan kejam kerap diperlakukan Cecile terhadap Willie. Terlebih ketika itu
Cecile tidak memiliki anak. Perubahan besar terjadi ketika Cecile berhasil
memiliki anak perempuan. Rasa keibuan muncul dan begitu pula terhadap
voorkinder nya yaitu Willie. Dan masih banyak lagi kisah serupa yang ditulis
oleh orang Belanda maupun Tionghoa mengenai “nyai” dan kehidupannya.
Dari pembahasan buku dan ketiga kisah
diatas bisa disimpulkan jika pergundikan terjadi karena kemiskinan yang
menyebabkan orang pribumi terlebih perempuan tidak mampu menolak ketika dirinya
terpaksa harus dijajah juga. Segala tekanan yang diterima dari mulai sistem
sewa tanah, tanam paksa sampai ekonomi liberal tidak melepaskan rakyat pribumi
dari belenggu kesengsaraan. Dan hal ini berimbas kepada nasib perempuan yang
tidak berdaya sama sekali. Kesan jika “nyai “ adalah seomag wanita kotor,
perebut suami orang dan wanita pelacur pun kerap dilontarkan sebagian orang. Nyai
memang hidup bersama tuannya tanpa ikatan perkawinan dan penerimaan terhadap
anak hasil hubungan tuan dan “nyai” pun sulit dilakukan. Sebenarnya jika bisa
menuntut, wanita mana yang mau hanya dijadikan seorang gundik dan hidup
dipisahkan dari anak. Jika bisa memilih pasti mereka akan memberontak, tapi
kekuatan asing begitu besar. Hal itu terjadi karena belum adanya paham
emansipasi dan feminisme yang hanya didapat lewat pendidikan. Jangankan
pendidikan, pemenuhan atas hak asasi perempuan pun tidak terpenuhi pada tahun
itu. Lewat tulisan ini, penulis berhasil membawa kita pada pemahaman bagaimana
Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda lewat kutipan novel-novel yang juga
sedikit beliau ulas kembali dalam buku ini.
Depok, 15 Januari 2015
pukul 09.53 WIB.

Comments
Post a Comment