Pernah

Pernah ku jalan seorang diri.

Melewati lorong yang serasa tak bertepi.

Mencari sosok mu yang yang pergi.

Yang tak pernah lagi kutemui hingga kini.

 

Pernah ku berlari di tengah deras hujan.

Mencari sebuah angan yang lama telah hilang.

Mencari sebuah harapan.

Harapan akan hadirnya sebuah cinta dalam kehidupan.

 

Pernah aku melalui hari tanpa senyum sama sekali.

Pernah aku lalui gang berbatu dengan menangis sendiri.

Pernah ketika dikeramaian aku merasa sepi.

Ya, aku pernah begini.

 

Aku pernah menjadi seperti angin

Bebas kesana kemari kemanapun aku ingin

Pernah aku tak berbatas

Menjalani hidup bebas lepas

 

Pernah aku merasa hina

Hidup untuk manusia tak ada tujuannya

Pernah aku merasa begitu suci

Hingga ku merasa semua orang tunduk menghormati

Pernah aku menjadi batu

Batu yang keras dan tak ada yang bisa melawan ku

Pernah aku menjadi batu.

Yang tak bergeming dengan apapun di depanku

 

Ku rasa aku pernah menjadi segalanya.

Semua peran sudah pernah kucoba.

Ya, aku bisa menjadi apa saja.

Disini, dipanggungku sendiri. Panggung yang aku pilih.

Ya, aku pernah jadi apa saja.

Namun tiba-tiba terbersit sebuah tanya,

“Jika memang kamu pernah jadi apapun, lalu yang mana kah dirimu sendiri? Yang manakah dirimu itu?”

Hahahahaahhaha, inilah aku. Gabungan dari semuanya.

Inilah aku, si antagonis yang protagonis.

Inilah aku, yang pernah jadi kamu!

 

 

Depok, 28 Desember 2014

16.48

Untuk ku yang tengah melagu. Sebuah lagu dari Payung Teduh yang mengingatkanku bahwa dunia ini memang jelas mengajarkan aku untuk jadi orang lain demi menjadi diriku sendiri. Ya, terlalu banyak peran yang aku jalani. Aku tidak boleh lelah, karena panggung sandiwaraku harus tetap berjalan dan hidup. Terima kasih, lihatlah wahai Sutradara! Aku jalani yang Kau mau. 😊 

Comments

Popular posts from this blog

Matinya Kepakaran (The Death of Expertise); Sebuah Refleksi Awal Tahun

Kebosanan yang Berujung Tragedi

Televisi oh, televisi ...