Matahari di Malam Hari

 


Malam ini, pukul 23.30. Aku masih menunggu nya. Seorang yang kuyakini akan datang kembali dalam kehidupanku untuk menepati janjinya.

*flashback 10 tahun lalu*

Namanya Mocha. Mahasiswa jurusan seni rupa sebuah Universitas ternama di Jakarta. Malam ini seperti biasa, Mocha pulang dengan wajah lesu. Seperti biasa, dosen pembimbingnya hari ini menanyakan tentang skripsi pada Mocha. Dengan sebatang rokok ditangan, santai Mocha turun dari kereta api. Terlihat seorang gadis tengah berlari terengah-engah dari kejauhan. Seperti menghindari sesuatu, ia terus berlari menembus dingin nya malam Jakarta. Tiba-tiba gadis itu tidak sengaja menabrak Mocha.

“Aaaw.....” teriak gadis itu

“Aduuuuuh.. “ teriak Mocha

“Maap mas maap. Saya gak sengaja” sesal si gadis

“Lo kalo jalan liat-liat kali!” gertak Mocha itu kepada sang gadis.

“Mas, mas harus bantu saya. Saya dikejar-kejar orang jahat. Mas harus bawa saya pergi jauh dari sini. Harus!” dengan tiba-tiba gadis itu menyeret tangan Mocha hingga ke taman tidak jauh dari stasiun kereta.

Terpana. Itulah kesan pertama Mocha bertemu dengan sang gadis. Seorang gadis berambut panjang di kuncir kuda. Memakai baju bergambar bunga Matahari berwarna biru. Warna kesukaan Mocha dan bunga yang tidak pernah absen digambar oleh Mocha juga. Mungkin kah cinta datang begitu cepat???

“Lo orang mana sih? Lari nya cepet banget. Bukan makhluk bumi ya?”

"Saya manusia kali mas. Mas harus bantu saya yaaa”

“Hah? Kita belum pernah ketemu kan sebelumnya? Dan lo langsung minta tolong sama gue? Lo ga curiga atau takut gitu sama gue?”

“Tidak!” jawab sang gadis polos

Mocha melihat ada keseriusan dari mata sang gadis. Dan untuk kedua kalinya, Mocha terpana.

“Kenapa lo ga takut sama gue?”

“Karena saya tau mas orang baik. Saya juga yakin semua orang dilahirkan Tuhan dalam keadaan baik-baik”

“Cuma karena itu?”

“Iya, waktu saya narik tangan mas tadi mas nya juga ga berontak. Pasti mas mau bantu saya dooong.”

“Pede sekali -_-“

“Oh ya, kalo boleh tau nama mas siapa?”

“Nama gue Mocha”

“Oh ya? Nama saya Cino. Berarti kita jodoh. Mocha sama Cino. Hahahhahahahha”

Untuk sekian kalinya Mocha terpana dengan gadis didepannya. Makhluk aneh yang baru ditemui nya ini membuat Mocha melupakan sejenak segala masalah yang menerpa dirinya. Hanya rasa suka yang tiba-tiba muncul. Dan Mocha pun telah jatuh cinta

“Mas, mas ga mau tanya nama saya?”

“Emang nama kamu siapa?”

“Saya Mentari mas. Saya dari Yogya”

“Hah? Jauh amad! Ngapain ke Jakarta?”

“Saya kabur dari rumah mas”

“Oh ya? Emang kenapa? Aaaaahhh.. gue tebak. Pasti lo kabur dari rumah karena lo mau dijodohin sama bokap lo karena bokap lo ga bisa bayar utang nya ke rentenir tua bangka dan dia menjadikan lo sebagai alat pembayaran kan? Hahahhahahah”

“Iya, kok mas tau” Jawab Mentari dengan wajah lesu dan hampir menangis

Melihat hal itu Mocha pun menjadi sedih. Seperti merasakan hal yang sama seperti yang Mentari rasakan. Mocha pun minta maaf.

“Eh serius? Ya ampun maaf mbak saya cuma bercanda” sesal Mocha

“Ga papa kok mas. Saya juga gak mau sebenernya begini. Tapi ya mau gimana lagi. Toh udah kejadian. Hmmm, mau menyesal juga apa yang harus disesalin. Bahkan daun yang jatuh pun gak pernah menyalahkan angin” jawab Mentari seraya tersenyum

Senyum itu. Senyum penuh semangat yang tiba-tiba menambah keyakinan Mocha akan adanya keajaiban.

“Sekarang mbak mau kemana?”

“Saya mau kerumah kakak saya yang juga lari ke Jakarta untuk menghindari perjodohan. Mungkin saya bisa tinggal disana.”

“Mbak, ini udah malem loh. Gak mau nginep dulu tempat saya? Perempuan cantik dan baik kayak mbak ga baik pergi sendiri?”

“Gak baik? Saya dari Yogya kesini sendiri loh mas. Ahahahahahaha. Ahh! Saya tau, mas perhatian sama saya. Pasti karena mas suka sama saya kan? ahahahahah”

“Iya, saya suka sama kamu. Suka dari pertama tadi kamu nabrak aku. Suka banget”

“Aku juga suka kok sama kamu”

Mocha kaget mendengar pernyataan Mentari.

“Oke. Karena kamu sama aku sama-sama suka, kita nikah sekarang aja gimana?” ajak Mocha

“Iih mas apaan sih? Nikah gimana? Saya mau cari kakak saya dulu. Abis itu saya mau deh nikah sama mas.”

“Bener ya Mentari. Aku serius nih”

“Iya aku juga serius”

“Oke sekarang kamu pergi cari kakak kamu. Kalau udah ketemu kakak kamu kita langsung nikah”

“Baik! Hmmm, sekarang jam berapa?

“Jam 12 malam.”

“Tunggu aku disini besok. Aku janji akan cari kakak aku dan kembali kesini untuk ketemu kamu Mocha”

“Iya! Aku mau”


Tiba-tiba saja seperti ada yang menarik tangan Mentari dan .....


“Hah! Mau kemana lagi kamu Tari. Kamu harus kembali ke Yogya. Raden mas Aji sudah nunggu. Besok kan hari pernikahan kamu”

“Aaahhh tolong! Mocha tolong mereka orang jahat Mocha. Aku gak mau ikut mereka”

“Heh! Lepasin Mentari ku!” gertak Mocha

“Ahh! Apaan sih lo bocah ingusan. Makan nih!”

Tiba-tiba saja Mocha dipukul oleh salah seorang lelaki besar itu. Dan langsung membawa Mentari pergi. Sambil teriak Mentari berkata ...

“Mocha pokoknya kamu harus nunggu aku. Ditempat yang sama di jam yang sama. Disini, jam segini. Aku pasti akan kembali lagi dan nikah sama kamu. Kita akan bahagia sama-sama. Aku sayang kamu Mocha!!”

Sayup sayup Mocha mendengar. Lalu karena terlalu banyak di pukul Mocha tidak sadarkan diri.

*flashback selesai*

Yah, disinilah Mocha sejak 10 tahun lalu. Menunggu sang Mentari datang menepati janjinya. Hampir 10 tahun dia tidur ditaman ini. Jika pagi menjelang Mocha akan kembali ke apartemennya. Dan mengulang tidur ditaman besok malamnya. Tuhan sudah menunjukan keajaibannya malam 10 tahun lalu. Dengan mendatangkan Mentarinya di malam hari. Seperti biasa, Mocha menunggu hingga terlelap. Sebelum terlelap Mocha berdoa: “Untuk kesekian kalinya aku berdoa menyambut goresan gelap malam ini, datangkan lagi cintaku kemari. Aku memang tidak pernah merasakan cinta sesebelumnya. Namun aku yakin, Kau Maha Pemilik Cinta, tidak akan pernah meninggalkan aku tanpa cinta.”

 

Catatan : pengembangan dari ide seorang kawan berinisial P.L. mari bertemu lagi, dan buat cerita gila seperti ketika masih di teater dulu!


Comments

Popular posts from this blog

Matinya Kepakaran (The Death of Expertise); Sebuah Refleksi Awal Tahun

Kebosanan yang Berujung Tragedi

Televisi oh, televisi ...