Enjoy Jakarta! atau Enjoy Jakarta?
Beberapa hari yang lalu di jalan Jakarta saya melihat mobil yang bertuliskan “Enjoy Jakarta!” dan sebenarnya itu bukan pertama kalinya saya melihat tulisan seperti itu. Hampir disetiap ada tulisan Enjoy Jakarta! pasti ada gambar berbagai kesenian tradisional Jakarta yang ikut menghiasi. Tarian adat, makanan atau destinasi pariwisata lainnya yang ditawarkan oleh Jakarta. Sejenak saya berpikir dan ragu, Enjoy Jakarta! itu merupakan ajakan untuk menikmati Jakarta, sebuah harapan untuk penghuni Jakarta agar selalu enjoy dikotanya, ataukah sebuah pertanyaan mengejek yang tidak berani diungkapkan beberapa pihak pemerintah?
Pada
kenyataannya Jakarta belum cukup enjoy sampai hari ini. Hidup di Jakarta masih diwarnai dengan kestresan, kesemrawutan
dan kriminalitas. Tidak terlalu berlebihan sepertinya menyebut hidup di Jakarta
itu keras, karena begitulah keadaannya.
- Kemacetan
“Kalo ga
macet, bukan Jakarta namanya!” Dulu saya pikir ini hanyalah anekdot belaka.
Tapi nyatanya ini sungguh benar adanya. Kini kemacetan sudah menjadi hal yang
biasa di Jakarta. Mungkin dulu orang terlambat datang ke kantor atau terlambat
kuliah bisa saja menjadikan kemacetan di Jakarta sebagai alasan. Tapi sekarang
tidak lagi. Seperti yang saya alami semester lalu di sebuah mata kuliah yang
masuk pukul 10 pagi. Saya terlambat masuk karena pagi itu saya harus menempuh
perjalanan Depok-Rawamangun di hari senin. Saat saya gunakan alasan macet, saya
malah dimarahi oleh seorang dosen yang juga wakil dekan fakultas di kampus
keguruan tempat saya menggali ilmu. Tidak peduli hujan atau panas, macet memang
tidak bisa dihindari. Berbagai kendaraan umum yang diharapkan bisa menjadi
solusi pun nyatanya belum begitu memberi dampak yang diharapkan. Banyak faktor
memang yang menyebabkan kemacetan, salah satunya kendaraan pribadi yang
membanjiri jalan-jalan Jakarta. Meskipun kini motor atau kendaraan beroda dua
dilarang lewat jalan Medan Merdeka dan sekitarnya, tapi apakah Jakarta hanya
sebatas MoNas?
- Tindak kriminal
Disuatu
pagi dimana masyarakat di daerah kosan saya belum mebunjukkan aktifitas yang
berarti, ada sebuah keributan yang cukup membuat geger. Di pagi *saya lupa
tanggal berapa kejadiannya* pukul 05.30 pagi terdengar jeritan menyedihkan
seorang perempuan. Antara takut, panik dan ketakutan. “Toloooooong..
Jambreeet.. Toloooong...” Suara itu terus terdengar dan cukup menganggu.
Sebenarnya saya ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi apa daya, pintu
kosan belum dibuka. Melihatlah saya lewat jendela. Ketika saya mendongak lewat
jendela, saya melihat seorang perempuan paruh baya yang tengah terengah-engah
meminta tolong pada seorang anak muda yang sudah beraktifitas. Perempuan itu
mengaku telah dijambret, diambil dompet dan kalung nya. Ya memang, saya melihat
ada darah di sekitar lehernya yang menandakan bekas tarikan paksa sesuatu.
Warga tidak berhasil mengejar sang pelaku, namun warga berhasil membawa
perempuan tersebut ke rumah sakit. Itu terjadi di pagi hari loh. Masih banyak
contoh kelakuan orang-orang jahat di Jakarta seperti perampokan, penodongan dan
lain sebagainya. Hmmm, hidup di Jakarta belum enjoy!
- Pelecehan seksual
Judul
diatas mungkin banyak dirasakan oleh kaum perempuan, tapi jangan salah sangka
laki-laki dan anak-anak juga tidak luput dari hal tersebut. Suatu ketika saya
sedang diperjalanan menuju kampus, saya berbarengan dengan seorang perempuan
yang juga sama-sama lewat jembatan penyebrangan. Tapi bedanya saya menuju
kampus sedangkan perempuan tadi menuju sebuah gedung perkantorang di pinggir
jalan di daerah Rawamangun. Ya, namanya juga perempuan kantoran. Kebayang dong
ya bagaimana pakaian yang ia pakai. Baju kemeja, dipadukan dengan rok hitam
diatas lutut dengan high heels. Dan segerombolan laki-laki yang suka nongkrong
dipinggir jalan merasa terpanggil untuk bersiul-siul menggoda. Namun si
perempuan dengan cuek terus melenggang. Tanpa disadari sebenarnya perempuan
tadi telah menerima pelecehan seksual secara verbal. Pelecehan seksual bisa
terjadi dengan berbagai ventuk, verbal maupun sentuhan anggota badan secara
langsung. Pastinya kita sering mendengar pelecehan seksual yang terjadi dalam
angkutan umum seperti busway atau kereta seperti menempelkan alat vital
laki-laki ke perempuan atau menyentuh alat vital perempuan. Perempuan pastinya
ngeri ya kalau pergi kemana-mana sendirian. Ckckck, Jakarta.. Jakarta..
- Bangun terus, terus bangun?
Tidak
dipungkiri lagi jika kini banyak bangunan yang tengah mencakar langit Jakarta.
Mall-mall maupun gedung perkantoran kini menghiasi wajah ibukota. Tidak hanya
sekitaran bundaran HI yang di sesaki gedung-gedung besar dan tinggi seperti
Grand Indonesia, Sarinah, Menara Hyaat dll tapi juga di daerah-daerah lain
Jakarta seperti La Piazza dan Gandaria City di Jakarta Selatan, Pusat Grosir
Cililitan yang diikuti dengan gedung BKN lalu gedung Fakultas Kedokteran UKI
yang juga begitu tinggi melebihi bangunan lain disekitarnya dan gedung tinggi
lain di Jakarta. Bangunana yang terus dibangun di Jakarta buktinya belum cukup
memenuhi kebutuhan masyarakat ibukota akan ruang publik dan ruang terbuka hijau.
Mall memang merupakan ruang publik yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan
orang banyak. Dalam satu maall sudah tersedia toko yang menjual baju, makanan,
handphone, kebutuhan rumah tangga maupun pusat kebugaran. Tapi apakah semua
orang bisa masuk mall? Bisa. Apakah semua orang diterima di dalam mall? Belum
tentu. Seperti yang saya alami dan seorang teman di dalam sebuah mall di
Jakarta Pusat. Sebut saja Mall “S”. Sabtu 31 Januari 2015 lalu saya dan seorang
teman sebut saja Mawar selesai mengikuti sebuah seminar di Gedung RRI dekat
MoNas. Saat sedang jalan-jalan naik City Tour menikmati kota Jakarta menjelang
maghrib itu tiba-tiba Mawar kebelet buang air kecil. Akhirnya kami memutuskan
untuk buang air di mall dekat situ. Masuklah kita ke mall “S”. Saking megah nya
mall tersebut, kami tidak bisa melihat tanda-tanda adanya toilet di dekat situ.
Akhirnya kami memutuskan untuk “menjelajah” sendiri mencari toilet. Tapi karena
putus asa, kami bertanya pada security mall dimana toilet berada. Dan perlakuan
aneh kami terima. Kami begitu diawasi oleh penjaga toko baju disepanjang jalan
menuju toilet. Bukan hanya itu, mata-mata aneh pun memandang kami ketika
ditoilet. Dengan memakai batik dan rok sehabis seminar, tanpa perhiasan
mentereng yang kami kenakan jadilah kami pusat perhatian. Sebenarnya saya tidak
menyadari jika kami jadi pusat perhatian, tapi Mawar menyadari itu. Lalu ruang
publik mana yang bisa dinikmati semua lapisan masyarakat Jakarta? Semua lapisan
loh ya, bukan hanya lapisan kelas atas. Lalu dengan kebutuhan ruang terbuka
hijau. Memang kini pemerintah Jakarta sedang mengusahakan adanya taman-taman di
Jakarta. Karena banyaknya bangunan yang dibangun tidak dibarengi dengan
pemikiran untuk membangun ruang terbuka hijau di dekatnya. Di China, hampir
disemua rumah susun memiliki ruang
terbuka hijau sendiri. Bisa dibayangkan dong ya tiap pagi mereka bangun tidur
bisa langsung berolahraga disana dan malamnya akan banyak komunitas-komunitas
yang berkumpul untuk sharing dan ngobrol-ngobrol. Tapi disini, setiap ada ruang
terbuka hijau baru akan diserbu oleh banyak pedagang yang mengais rezeki
disana. Kalau jualannya sih tidak apa, tapi sampahnya itu looh. Bikin PR dinas
kebersihan Jakarta tambah numpuk. Terus kalo udah gitu, masih enjoy di Jakarta?
Menurut saya, Enjoy Jakarta!
merupakan sebuah pengharapan. Harapan para pemimpin Jakarta agar Jakarta bisa
dinikmati oleh setiap lapisan masyarakat yang hidup dijalannya, digedungnya,
direstorannya, atau di kolong jembatannya. Proses itu mungkin butuh waktu yang
lama, mengingat semua yang telah terjadi diatas juga terjadi sudah begitu lama.
Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri jika ingin mengubah kehidupan di Jakarta
agar lebih enjoy. Sering dengar dong ya istilah “kalo mau di baikin sama orang,
kita harus baik sama orang.” Nah, kalau mau dibaikin dan nyaman di Jakarta,
kita juga harus baik hidup di Jakarta. Jangan suka jahat sama orang kalau tidak
mau dijahatin, buang sampah jangan sembarangan agar tiap tahun Jakarta tidak
memberi kita air bah, dan hargai sesama dimanapun berada. Pejalan kaki
menghormati pengenadara angkutan, pegendara juga menghormati pejalan kaki. Inti
nya saling toleransi aja, InsyaAllah Jakarta bakal lebih asik kedepannya. Dan
akhir nya nanti kita bakal bener-bener ngerasain Enjoy Jakarta!!
Depok, 13
Februari 2015
14.08 WIB
Tulisan
ini muncul tiba-tiba setelah baca majalah Change edisi IV yang terbit tahun
2008 dikaitkan dengan yang saya alami selama hidup di Rawamangun.
Comments
Post a Comment