Amerika Dulu = Jakarta Sekarang?

         11 Februari 2015 kemarin, saya menonton film bersama di kelas. Film yang diputar tentang Sejarah Amerika. Namanya juga anak sejarah, tontonannya pun tontotan sejarah. Filmnya merupakan film dokumenter, berhubung saya telat masuk kelas saya tidak tahu apa judul asli film itu. Yang saya tahu hanyalah sub judul film yang kami tonton, yaitu “What Is America?” Film itu sebenarnya mewakili pertanyaan orang yang berpikir, sebenarnya siapa sih Amerika? Siapakah nenek moyang Amerika? Mengapa Amerika bisa jadi seperti sekarang ini?

Berdasarkan film What Is America, orang pertama yang menempati wilayah Amerika kini adalah orang-orang imigran. Salah satunya adalah orang-orang Inggris yang tidak tahan dengan kekuasaan gereja pada sekitaran abad pertengahan. Dan imigran pertama itu dianggap sebagai nenek moyang Amerika. Orang-orang imigran kulit putih tersebut selalu melakukan diskriminasi terhadap semua imigran lain sesama kulit putih atau imigran asing. Seperti perlakuan orang Amerika zaman dulu terhadap orang Tiongkok yang memang sudah banyak tinggal di Amerika untuk menjadi budak maupun bekerja di pabrik-pabrik di Amerika. Amerika membutuhkan banyak budak atau pekerja untuk mengerjakan pekerjalanan umum seperti membangun jalan, rel kereta maupun menghidupi pabrik-pabrik disana. Sebagai negara industri, Amerika memiliki banyak pabrik untuk memproduksi segala produk demi  membangun negara tersebut. Saking banyaknya orang Tiongkok di Amerika sejak dulu tidak heran jika Amerika begitu menerima kehadiran China Town. Tapi awal kehadiran China Town begitu disambut dingin oleh Amerika. Amerika menganggap orang-orang Tiongkok itu telah mengambil jatah ketersediaan pekerjaan di Amerika. Karena orang Tiongkok rela dan mau dibayar murah selama bekerja di Amerika. Perusahaan mana yang tidak mau mengambil pekerja yang sudah mau di bayar murah hasil pekerjaannya pun berlimpah.

Lain cerita dengan orang orang Texas. Banyak orang-orang Texas yang masuk ke Amerika Serikat tiap minggunya sebagai imigran ilegal. Mereka terpaksa menjadi imigran ilegal karena perlakuan yang diterimanya dari “warga asli” Amerika. Dan mengapa mereka harus ke Amerika? Mereka meminta pengakuan kependudukan terhadap pemerintah Amerika. Warga Texas merasa mereka memiliki kontribusi yang besar terhadap apa yang kini Amerika terima. Pada suatu perang di zaman dulu, Texas telah membantu Amerika memenangi perangnya. Dan kini menurut warga Texas sangat wajar mereka meminta imbalan berupa pengakuan kependudukan karena berkat mereka Amerika bisa menjadi negara adidaya. Mereka merasa mereka juga Amerika karena telah berjuang merebut kemenangan Amerika.

Saya pikir hal yang serupa juga sedang terjadi di Indonesia. Jakarta tepatnya. Jakarta sebagai kota sudah seharusnya dapat menyeimbangkan antara ruang terbuka dan aktifitas ekonomi. Dan bahayanya, Jakarta terkesan lebih mementingkan yang terakhir. Dimana bahayanya? Kota yang lebih mementingkan sisi ekonomi akan menjadi kota yang tidak akrab dengan orang “terpinggirkan”. Bagaimana tidak, itu artinya Jakarta hanya akan menganggap warganya adalah masyarakat beruang yang terpandang. Padahal orang-orang yang banyak berimigran ke Jakarta adalah orang-orang dari Depok, Bogor, Bekasi, Tanggerang dan kota satelit lain. Jarang sekali orang dari Sumatera, Kalimanatan, Papua maupun Sulawesi ke Jakarta. selain karena ongkos yang mahal, mereka juga dipaksa berpikir bagaimana cara tinggal dan makan di Jakarta. Dan untuk masyarakat dari kota satelit, mereka merasa punya kontribusi untuk Jakarta. Bagaimana tidak Jakarta cukup mendapat pasokan beras, cukup mendapatkan pasokan sayur dan buah memang dari mana? Ya dari kota-kota satelit sekitarnya. Jakarta dulu berbeda dengan Jakarta sekarang. Jakarta dulu memang terkenal penghasil buah. Terbukti dengan nama-nama daerah di Jakarta yang memakai nama buah seperti daerah Kebon Jeruk, Pisangan, Kemanggisan, Kebon Nanas, dan lain sebagainya. Tapi kini? Jangankan buah dan sayur, air pun sudah tidak bisa masuk kedalam tanah karena penyerapan yang buruk di Jakarta.

Saya rasa cukup pantas jika para imigran dari kota satelit sekitar Jakarta juga meminta imbalan terhadap Jakarta. Meski mereka dibayar atas hasil kerja mereka, tapi mereka juga mengalami kesulitan didesa. Kini dengan banyaknya pabrik-pabrik yang berdiri diatas kebun-kebun mereka, bagaimana caranya orang-orang imigran ini menghidupi kebutuhan mereka? Tanah yang mereka miliki adalah tanah yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan Jakarta akan beras, sayur dan buah. Sedangkan tanah pribadi mereka telah ditumbuhi gedung-gedung pabrik. Tidak heran jika petani Indonesia harus membeli beras demi kebutuhan mereka, sedangkan mereka harus selalu memasok beras juga ke Jakarta. tapi ketika sudah tiba di Jakarta mereka mendapat perlakuan yang tidak enak. Meski tidak sampai di hujat dan sebagainya, banyak mata Jakarta yang memandang mereka rendah yang menyakiti mereka. Mereka tidak mendapat sedikitpun lahan di real estate-real estate Jakarta, makanya mereka tinggal di kolong jembatan. Mereka tidak mendapat pekerjaan di gedung-gedung tinggi Jakarta makanya mereka mencuri. Mereka tidak mendapat penerimaan yang baik di Jakarta makanya mereka tidak bisa berkelakuan yang baik di Jakarta. Miris bukan?

Kembali lagi pada soal film What Is America. Menurut Grace Abott, seorang aktifis yang hidup bersama orang-orang imigran disana mengatakan Amerika adalah seluruh benua. Amerika adalah tempat berkumpulnya milyaran orang dari suruh dunia yang tidak membuat Amerika menjadi turun derajat, tapi membuat Amerika menjadi kaya akan keberagaman. Jakarta bisakah begitu? Amerika kini menjadi negara moden yang siapa pun bisa tinggal dan punya tempat disana, Jakarta bisa kah begitu? Jakarta memang bukanlah Amerika, tapi pada nyatanya Amerika yang dulu adalah Jakarta yang sekarang. Hmmm, berarti Amerika yang sekarang adalah Jakarta kapan ya?

 

Depok, 13 Februari 2015.

16.20 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Matinya Kepakaran (The Death of Expertise); Sebuah Refleksi Awal Tahun

Kebosanan yang Berujung Tragedi

Televisi oh, televisi ...